Selamat tahun baru semua. Semoga di tahun 2012 ini karier Anda makin sehat, keluarga Anda makin bahagia, karier Anda semakin cemerlang, dan Indonesia bebas korupsi!
Tulisan ini saya buat bulan lalu dan baru sempat saya posting sekarang. Jadi harap maklum bila headline-nya masih Desember.
Desember (Lagi)!
Bulan Desember selalu berhasil membuat saya terharu biru. Saya tahu hari-hari masih akan berlanjut, tapi entah bagaimana Desember memiliki kesan tentang sebuah akhir. Ya, saya tahu Januari akan datang dan hidup akan berlanjut, tapi pokoknya begitu, deh, saya selalu merasa kalah karena waktu (seolah) sudah habis dan saya belum melakukan apa-apa.
Oke, saatnya mengevaluasi diri dan membuat resolusi. Tahun kemarin saya tidak membuat resolusi. Apa pasal? Saya sedang hamil dan hanya punya resolusi tunggal: melahirkan bayi saya dengan selamat dan mengasuhnya dengan baik. Resolusi itu tidak saya tuliskan di blog. Mengapa? Saya terlalu ‘protektif’ dengan kehamilan yang sudah lama saya tunggu itu sehingga untuk mengumumkannya pada ‘dunia’ saya takut. So, saya tidak mengumumkannya di facebook, di multiply, atau di mana pun. Saya hanya memberi tahu orang-orang terdekat saya.
Oke, mari kita tengok resolusi saya dua tahun sebelumnya (http://kenterate.multiply.com/journal/item/324/Resolusi_2010_Mendefinisikan_Keinginan)
· Menyelesaikan paling tidak dua buah novel. (Ini berhasil saya lampaui, pas banget dua novel, eh malah masih tambah satu ding, meski bukan hasil tahun 2010 sepenuhnya. Satu novel berjudul Pieces of Joy (sudah terbit) dan satu lagi Nada Cinta Marcella (masih antre di penyuntingan). Satu lagi adalah novel lama yang saya bongkar lagi, berjudul Dark Love. Ini juga sudah antre di penyuntingan).
· Menolong orang lain, melakukan pekerjaan sosial dan bukan sekadar menyumbang uang.(Ah, ini belum berhasil saya laksanakan, SAMA SEKALI.)
· Berolahraga kembali. Ini adalah resolusi yang selalu angot-angotan. (Yak, dan tahun lalu serta tahun ini pun masih tetap angot-angotan.)
· Belajar sesuatu yang baru –selalu--. (Eh, saya sudah belajar apa sih? Gagal total deh resolusi yang satu ini. )
· Mengumpulkan keluarga besar, menyambung silaturahim, merekatkan sejarah. (Eng, ini juga gagal. Aduuuhhh, malu berat deh.)
· Rumah so far tidak menjadi fokus saya karena pada kenyataannya saya tidak bisa mengelak dari kewajiban menemani Ayah dan merawat rumah peninggalan orangtua. (Masih tinggal di rumah lama bareng ayah, it’s okelah, tidak ada pilihan lain.)
· Anak, ya selalu menjadi resolusi saya. Mudah-mudahan Alloh mengabulkan. (Alhamdulillah, ada yang berhasil juga. Hanya karena Alloh ini semua bisa terjadi. Saya membuat resolusi ini Januari 2010. Setelah berjuang jungkir balik, Oktober tahun itu juga saya dinyatakan hamil. Mei 2011 bayi kami, Angger ganteng, lahir. Desember tahun ini, saya mendapat ucapan selamat hari ibu, haha, senang! Hm, tapi saya merasa masih jauh dari kriteria ibu ‘sempurna’. Ibu yang baik saja belum. Saya kadang masih malas mengajak Angger bercakap-cakap. Kadang rasa lelah lebih mendominasi daripada keharusan mendidik. Wih, teori memang gampang, praktik susah bo!)
Oya, tapi selain itu, saya menambahkan sedikit prestasi.
1. Lebih gaul dengan tetangga. Ini karena Angger. Entah bagaimana punya bayi ternyata merekatkan ibu-ibu yang senasib. Tiap kali ke pasar bawa Angger, orang-orang berhenti untuk menyapa si bayi. Saya juga begitu. Akhirnya saya jadi lebih sering ngobrol. Mengejutkan, saya baru tahu kalau ternyata tetangga sebelah menyekolahkan anaknya di home-school (saya pikir di SD Islam Terpadu). Mengejutkan, ternyata tetangga sebelah adalah ibu rumah tangga penuh waktu sambil nyambi jualan produk herbal (saya pikir dia dosen). Mengejutkan juga selama ini saya dikira perawat, pekerja kantoran, atau guru. Mengejutkan selama ini Anto disangka sebagai tentor Primagama. Mengejutkan tetangga sebelah mengira Wulan adalah PRT saya, bukan adik saya. Begitulah.
2. Saya mulai merintis karier sebagai penerjemah novel. Sangat menantang dan menyenangkan. Selama ini saya hanya menerjemahkan dokumen –non-fiksi—dan tidak berminat menerjemahkan novel. Saya pikir menulis novel lebih asyik. Tapi ternyata menerjemahkan novel itu punya keasyikan tersendiri.
3. Menang dalam sayembara menulis ‘Ibu Tercinta’ (Gramedia Pustaka Utama). *Postingnya bisa dilihat di blog ini.
Saya jarang ikut lomba. Saya malas dengan ikatan tema dan deadline-nya. Tapi lomba yang satu ini bikin ngiler sungguh: belanja buku sepuasnya selama 15 menit di toko buku Gramedia. Huaaaa, siapa yang nggak ngiler. Meski dibatasi senilai Rp 3 juta, sungguh hadiah ini membuat saya lebih banyak ngeces dibanding hadiah uang tunai (lima juta misalnya). Jadi selain ikut, saya juga menyeret adik saya buat ikut. Kami saling mendukung dan berjanji, siapa pun yang menang, akan ‘membelikan’ buku pesanan yang lain. Saya menang, jadi saya membelikan seabreg buku pesanan Timbul dan juga Anto (ih, nggak jadi ikut lomba tapi ikutan pesen buku. Dengan senang hati, Cin).
Akhirnya hadiah saya ambil tanggal 27 Desember. Kami sudah menyiapkan strategi sebelumnya. Anto sampai bolak-balik ke Gramedia 6 kali, memilah-milah buku yang ia inginkan. Saya menghapalkan buku dan raknya. Tapi tau tidak? Dalam waktu kurang dari lima menit saya sudah mengambil semua buku yang saya inginkan. Tapi saya terpaksa menghabiskan waktu, jadilah saya ambil buku lagi. Tentu saja akhirnya yang repot adalah memilih buku yang harus dikembalikan. Kalau semua ditotal mungkin buku yang saya ambil bernilai 6 juta. Eh, meski udah pakai persiapan, tetap ada saja buku ‘jelek’ yang terambil. Bahkan saya mengambil judul komik Lucky Luke yang sudah saya punya. Uf. Tapi TETAP BERSYUKUR! Makasih mami,udah meninggal pun kau tetap memberiku hadiah.
Anyway, hadiah itu benar-benar penutup tahun yang manis.
Hm, kalau ini adalah rapor, nilai saya mungkin lima atau empat. Nggak pa-palah (ya nggak pa-pa dong, yang nulis saya, yang mengoreksi saya). Yang penting mari membuat tahun 2012 lebih berarti.
Jadi apa resolusi saya tahun 2012?
1. Jadi ibu yang lebih baik. Satu baris pendek, tapi penuh tantangan.
2. Menulis satu novel (pengin bilang dua, tapi dengan kesibukan saya momong Angger, jadi satu juga Alhamdulillah).
3. Merintis karier baru: penerjemah fiksi.
4. Makan lebih sehat (dalam rangka mengajari Angger dan mendidik diri sendiri). Butuh banyak ‘wish me luck’ nih.
5. Mencoba resep baru minimal seminggu sekali.
6. Memulai bisnis bersama Anto dan Wulan (Udah dirintis sih, kami mulai menanam dan jualan pepaya).
Itu saja ya! Itu pun sudah susah banget loh, karena resolusi yang nomor satu saja sudah menghabiskan 90% waktu saya.
SELAMAT TAHUN BARU buat semua. Semoga tahun ini lebih baik!

Buku hadiah!