Selamat tahun baru semua. Semoga di tahun 2012 ini karier Anda makin sehat, keluarga Anda makin bahagia, karier Anda semakin cemerlang, dan Indonesia bebas korupsi! Tulisan ini saya buat bulan lalu dan baru sempat saya posting sekarang. Jadi harap maklum bila headline-nya masih Desember. Desember (Lagi)! Bulan Desember selalu berhasil membuat saya terharu biru. Saya tahu hari-hari masih akan berlanjut, tapi entah bagaimana Desember memiliki kesan tentang sebuah akhir. Ya, saya tahu Januari akan datang dan hidup akan berlanjut, tapi pokoknya begitu, deh, saya selalu merasa kalah karena waktu (seolah) sudah habis dan saya belum melakukan apa-apa. Oke, saatnya mengevaluasi diri dan membuat resolusi. Tahun kemarin saya tidak membuat resolusi. Apa pasal? Saya sedang hamil dan hanya punya resolusi tunggal: melahirkan bayi saya dengan selamat dan mengasuhnya dengan baik. Resolusi itu tidak saya tuliskan di blog. Mengapa? Saya terlalu ‘protektif’ dengan kehamilan yang sudah lama saya tunggu itu sehingga untuk mengumumkannya pada ‘dunia’ saya takut. So, saya tidak mengumumkannya di facebook, di multiply, atau di mana pun. Saya hanya memberi tahu orang-orang terdekat saya. Oke, mari kita tengok resolusi saya dua tahun sebelumnya (http://kenterate.multiply.com/journal/item/324/Resolusi_2010_Mendefinisikan_Keinginan) · Menyelesaikan paling tidak dua buah novel. (Ini berhasil saya lampaui, pas banget dua novel, eh malah masih tambah satu ding, meski bukan hasil tahun 2010 sepenuhnya. Satu novel berjudul Pieces of Joy (sudah terbit) dan satu lagi Nada Cinta Marcella (masih antre di penyuntingan). Satu lagi adalah novel lama yang saya bongkar lagi, berjudul Dark Love. Ini juga sudah antre di penyuntingan). · Menolong orang lain, melakukan pekerjaan sosial dan bukan sekadar menyumbang uang.(Ah, ini belum berhasil saya laksanakan, SAMA SEKALI.) · Berolahraga kembali. Ini adalah resolusi yang selalu angot-angotan. (Yak, dan tahun lalu serta tahun ini pun masih tetap angot-angotan.) · Belajar sesuatu yang baru –selalu--. (Eh, saya sudah belajar apa sih? Gagal total deh resolusi yang satu ini. ) · Mengumpulkan keluarga besar, menyambung silaturahim, merekatkan sejarah. (Eng, ini juga gagal. Aduuuhhh, malu berat deh.) · Rumah so far tidak menjadi fokus saya karena pada kenyataannya saya tidak bisa mengelak dari kewajiban menemani Ayah dan merawat rumah peninggalan orangtua. (Masih tinggal di rumah lama bareng ayah, it’s okelah, tidak ada pilihan lain.) · Anak, ya selalu menjadi resolusi saya. Mudah-mudahan Alloh mengabulkan. (Alhamdulillah, ada yang berhasil juga. Hanya karena Alloh ini semua bisa terjadi. Saya membuat resolusi ini Januari 2010. Setelah berjuang jungkir balik, Oktober tahun itu juga saya dinyatakan hamil. Mei 2011 bayi kami, Angger ganteng, lahir. Desember tahun ini, saya mendapat ucapan selamat hari ibu, haha, senang! Hm, tapi saya merasa masih jauh dari kriteria ibu ‘sempurna’. Ibu yang baik saja belum. Saya kadang masih malas mengajak Angger bercakap-cakap. Kadang rasa lelah lebih mendominasi daripada keharusan mendidik. Wih, teori memang gampang, praktik susah bo!) Oya, tapi selain itu, saya menambahkan sedikit prestasi. 1. Lebih gaul dengan tetangga. Ini karena Angger. Entah bagaimana punya bayi ternyata merekatkan ibu-ibu yang senasib. Tiap kali ke pasar bawa Angger, orang-orang berhenti untuk menyapa si bayi. Saya juga begitu. Akhirnya saya jadi lebih sering ngobrol. Mengejutkan, saya baru tahu kalau ternyata tetangga sebelah menyekolahkan anaknya di home-school (saya pikir di SD Islam Terpadu). Mengejutkan, ternyata tetangga sebelah adalah ibu rumah tangga penuh waktu sambil nyambi jualan produk herbal (saya pikir dia dosen). Mengejutkan juga selama ini saya dikira perawat, pekerja kantoran, atau guru. Mengejutkan selama ini Anto disangka sebagai tentor Primagama. Mengejutkan tetangga sebelah mengira Wulan adalah PRT saya, bukan adik saya. Begitulah. 2. Saya mulai merintis karier sebagai penerjemah novel. Sangat menantang dan menyenangkan. Selama ini saya hanya menerjemahkan dokumen –non-fiksi—dan tidak berminat menerjemahkan novel. Saya pikir menulis novel lebih asyik. Tapi ternyata menerjemahkan novel itu punya keasyikan tersendiri. 3. Menang dalam sayembara menulis ‘Ibu Tercinta’ (Gramedia Pustaka Utama). *Postingnya bisa dilihat di blog ini. Saya jarang ikut lomba. Saya malas dengan ikatan tema dan deadline-nya. Tapi lomba yang satu ini bikin ngiler sungguh: belanja buku sepuasnya selama 15 menit di toko buku Gramedia. Huaaaa, siapa yang nggak ngiler. Meski dibatasi senilai Rp 3 juta, sungguh hadiah ini membuat saya lebih banyak ngeces dibanding hadiah uang tunai (lima juta misalnya). Jadi selain ikut, saya juga menyeret adik saya buat ikut. Kami saling mendukung dan berjanji, siapa pun yang menang, akan ‘membelikan’ buku pesanan yang lain. Saya menang, jadi saya membelikan seabreg buku pesanan Timbul dan juga Anto (ih, nggak jadi ikut lomba tapi ikutan pesen buku. Dengan senang hati, Cin). Akhirnya hadiah saya ambil tanggal 27 Desember. Kami sudah menyiapkan strategi sebelumnya. Anto sampai bolak-balik ke Gramedia 6 kali, memilah-milah buku yang ia inginkan. Saya menghapalkan buku dan raknya. Tapi tau tidak? Dalam waktu kurang dari lima menit saya sudah mengambil semua buku yang saya inginkan. Tapi saya terpaksa menghabiskan waktu, jadilah saya ambil buku lagi. Tentu saja akhirnya yang repot adalah memilih buku yang harus dikembalikan. Kalau semua ditotal mungkin buku yang saya ambil bernilai 6 juta. Eh, meski udah pakai persiapan, tetap ada saja buku ‘jelek’ yang terambil. Bahkan saya mengambil judul komik Lucky Luke yang sudah saya punya. Uf. Tapi TETAP BERSYUKUR! Makasih mami,udah meninggal pun kau tetap memberiku hadiah. Anyway, hadiah itu benar-benar penutup tahun yang manis. Hm, kalau ini adalah rapor, nilai saya mungkin lima atau empat. Nggak pa-palah (ya nggak pa-pa dong, yang nulis saya, yang mengoreksi saya). Yang penting mari membuat tahun 2012 lebih berarti. Jadi apa resolusi saya tahun 2012? 1. Jadi ibu yang lebih baik. Satu baris pendek, tapi penuh tantangan. 2. Menulis satu novel (pengin bilang dua, tapi dengan kesibukan saya momong Angger, jadi satu juga Alhamdulillah). 3. Merintis karier baru: penerjemah fiksi. 4. Makan lebih sehat (dalam rangka mengajari Angger dan mendidik diri sendiri). Butuh banyak ‘wish me luck’ nih. 5. Mencoba resep baru minimal seminggu sekali. 6. Memulai bisnis bersama Anto dan Wulan (Udah dirintis sih, kami mulai menanam dan jualan pepaya). Itu saja ya! Itu pun sudah susah banget loh, karena resolusi yang nomor satu saja sudah menghabiskan 90% waktu saya. SELAMAT TAHUN BARU buat semua. Semoga tahun ini lebih baik!  Buku hadiah! Oleh: Niken Terate Sekar (Ditulis untuk Sayembara Menulis ‘Ibu di Mataku’ , Gramedia Pustaka Utama) Para pelayat yang saya hormati. Terima kasih telah menghadiri upacara pemakaman ibu saya. Sebagai wakil keluarga yang tengah berduka ini, perkenankanlah saya menyampaikan sepatah dua kata mengenai almarhumah ibu kami yang akan Anda antarkan ke tempat peristirahatannya sebentar lagi. Sesungguhnya saya tidak tahu apa yang membuat Anda semua menghadiri upacara pemakaman ini. Yah, mungkin untuk kesopanan saja karena Anda kebetulan merupakan kerabat, tetangga, atau rekan ibu saya. Tapi saya yakin banyak di antara Anda hadir karena memang mencintai ibu saya. Anda datang karena ingin memberikan penghormatan terakhir atau karena Anda benar-benar menghormati ibu selama ini. Saya juga yakin, ada di antara Anda yang datang karena dalam satu titik kehidupan Anda, Anda pernah disentuh oleh kebaikan ibu kami. Betulkah saya bila mengatakan di mata Anda ibu adalah manusia yang sangat baik. Saking baiknya ia mendekati malaikat. Saya akui, ibu memang baik pada semua orang, kecuali keluarganya. Maksud saya, kadang-kadang kebaikan ibu menolong Anda sekalian harus berimbas pada hilangnya makan malam kami. Ibu saya bekerja –dia menjadi perawat selama 30 tahun, Anda tahu itu--, dia juga aktif dalam kegiatan apa pun, pengajian, posyandu, PKK, sampai memeriksa jentik nyamuk di rumah-rumah warga se- RW. Jika Anda memanggil ibu saya untuk memeriksa anak Anda yang sakit, untuk memastikan ayah Anda sudah meninggal, atau untuk mengurus paman Anda yang mondok di rumah sakit, pernahkah Anda mendengar ibu saya menjawab, ‘Sebentar ya, saya siapkan makan malam untuk anak saya dulu.’ Tidak, kan? Ibu akan langsung menjawab ‘ya’ dan berangkat saat itu juga. Kadang keluarga Anda yang masuk rumah sakit itu tidak punya uang dan ibu saya pula yang membayari. Melayanglah uang saku kami. Cukupkah penderitaan kami? Tidak. Sepulangnya –dan itu kerap pada larut malam—ibu akan mengeluh kakinya pegal dan kami harus memijatnya. Ibu akan mengomel panjang pendek kenapa ‘orang-orang’ itu selalu merepotkannya. Saya lalu menyahut ketus, ‘Kalau begitu kenapa ibu tidak menolaknya saja?’ Ibu akan menjawab, ‘Habis gimana lagi? Kasihan juga kalau tidak ditolong.’ ‘Ya sudah, kalau begitu ibu jangan mengeluh,’ sentak saya. Waktu itu tidak terpikir oleh saya bahwa ibu adalah manusia biasa yang butuh mengeluh. Di mata saya, ibu haruslah menjadi manusia super, yang tegar, ikhlas, dan bisa memasak serta menyetrika baju seragam anak-anaknya, sembari bekerja mencari uang. Waktu ibu beranjak tua, saya beranjak dewasa dan mulai berani menentang. Saya melarang ibu untuk berkegiatan ini itu supaya ia tidak terlalu lelah. Tentu saja ibu saya tidak menurut. Soal keras kepala ibu saya adalah jagonya. Saat saya menikah misalnya, ibu memaksa kami mengadakan pesta yang mewah. Alasannya? Karena dia sudah hampir pensiun dan itulah satu-satunya kesempatan baginya buat ‘narsis’ di depan teman-temannya. Dia tidak memedulikan keinginan saya akan pesta sederhana yang dihadiri kawan-kawan dekat saya saja. Akibatnya? Di pesta pernikahan saya , saya berdiri dua jam hanya untuk menyalami seribu tamu yang tidak saya kenal. Dan menjamu mereka dengan UANG SAYA! Yup, ibu sebenarnya tidak sanggup membiayai pesta semewah itu. Ketika saudara saya menikah beberapa tahun kemudian, kejadian yang sama terulang. Semua harus dengan cara ibu dan tamu-tamu ibu. Kalau kami tidak setuju, ibu siap berdebat atau menangis memilukan hingga kami tak punya pilihan selain mengalah. Ibu saya berlidah tajam, Anda pasti sudah tahu. Saya yakin beberapa Anda pernah tersambit tajam lidahnya. Ibu saya misalnya dengan santainya berkata di depan teman-teman anaknya, ‘Siapa yang belum lulus kuliah? Siapa yang belum dapat kerja? Loh, kamu kok sudah botak?’. Kerabat saya pernah datang membawa oleh-oleh kain batik buat nenek. Komentar ibu adalah, ‘Batik jelek kayak gini kok mau diberikan pada nenek, dia pasti nggak suka.’ Saya yakin kerabat saya itu tidak hadir di sini saking sakit hatinya. Para pelayat yang sama hormati, Bila Anda pernah mendapat kata-kata menyakitkan dari ibu, mohon jangan diambil hati. Kami sebagai anak-anaknya pun jarang mendapat pujian manis, meski kami sering juara satu. Yang ada, ibu selalu mengeluh kami kurang rajin, kurang rapi, kurang berani. Hadiah juga sangat langka. Ibu tidak memberi apa-apa saat kami juara kelas atau ulang tahun. Yang ada, ibu selalu menumpuki kami dengan pekerjaan. Bila kami sedang asyik duduk ngobrol, tiba-tiba ibu nongol sambil membawa setumpuk bawang untuk kami kupas. Bila kami sedang nonton TV, ibu memberi kami kertas kardus untuk dikokot –ibu masih bisa menerima pesanan katering, menakjubkan bukan?--. Bila kami sedang berjalan melenggang di mana pun di dalam rumah, ibu selalu memanggil kami untuk berhenti dan selalu saja ada hal yang harus kami lakukan, menyapu, mencuci piring, atau sekadar memijatnya. Ayah dan adik bungsu saya adalah tukang pijat ibu seumur hidup. Sementara saya punya tugas yang sangat khusus dan menurut ibu hanya saya yang bisa melakukannya dengan sempurna: mencabuti uban! Setiap akhir pekan, saya tidak bisa mengelak dari tugas ini. Kadang hingga dua jam. Sampai kami sama-sama ngantuk. Jika saya berhenti, ibu akan berkata, ‘Sudah dua jam? Masa? Kayaknya baru sebentar. Coba cari sepuluh uban lagi.’ Jika saya sudah benar-benar capai, saya akan mencabut rambut mana saja, hitam atau putih. Ibu saya tahu tapi tidak pernah protes. Baginya kenikmatan rambutnya dicabut melebihi kekhawatirannya atas menipisnya rambut. Ibu selalu punya caranya sendiri agar kami takluk. Dia tidak pernah menerima kata ‘tidak’ dari kami. Pernah suatu hari, ibu meminta ayah memindah televisi yang kebetulan rusak dan akan diperbaiki. Ayah bilang ‘nanti’ ---bukan tidak mau, hanya ‘nanti’--. Tapi ibu saya langsung mengangkut TV rusak itu. Lalu ujung tabung TV yang terbuka menghantam pintu dalam proses pengangkutan impulsif tersebut. Zzzzz, tabung TV itu langsung ‘nggembos’. TV yang tadinya rusak langsung jadi almarhum seketika. Itu akibatnya bila kami membantah ibu. Handai tolan yang kami cintai, Sifat impulsif ibu memang sudah menjadi ciri khasnya. Suatu hari dia pulang membawa radio baru dan katanya, ‘aku sedang menunggu bus di depan toko elektronik dan aku melihat radio ini.’. Di waktu lain dia membawa pulang rak meja TV baru dengan alasan yang sama, ‘Aku menunggu bus di depan toko mebel itu.’ Tidak heran ia berutang sepanjang hidupnya. Hingga meninggal dia masih berutang di bank –yang untungnya langsung lunas karena dilindungi asuransi--. Meski ibu bisa membeli radio dalam hitungan detik setelah ia melihatnya, jangan sangka ia bersikap sama ketika kami meminta uang. Uang saku kami sangat sedikit. Lebih sedikit daripada teman-teman kami yang lebih miskin. Saya heran teman-teman saya yang orang tuanya tidak mampu membawa uang saku yang banyak, punya video game, dan bisa beli baju di mal. Sementara kami semua terpaksa naik sepeda karena tidak punya cukup uang untuk naik bus apalagi beli motor. Ketika kami dewasa, kami tumbuh dengan kekeraskepalaan yang sama. Dan karenanya kami berani mengkritik ibu. Kami mengatakan ibu kejam dengan kata-katanya. Kami bilang anak-anak kecil tetangga menjuluki ibu nenek lampir karena selalu memarahi mereka bila mereka memasuki ibu kami. Ibu tidak bereaksi. Ia tahu dia memang kejam dan dia tidak pernah merasa perlu minta maaf kecuali pas lebaran. Pada suatu hari Minggu, saya dan ibu berencana masak siomay bersama. Tapi ibu harus pergi. Ia berkata kami akan memasak siomay nanti. Dia tidak akan pergi lama. Saya menunggunya sampai siang hingga saya jengkel sekali. Saya berteriak padanya ketika dia pulang. Dia diam saja sampai saya menyesal telah membentaknya. Dengan hati yang berat, saya minta maaf padanya. Dia mengangguk, tapi tidak meminta maaf karena pulang terlambat. Juga tidak membelikan saya siomay atau apalah. Para pelayat yang baik, Anda mungkin tidak akan suka bila saya katakan, ibu juga hobi menggosip dan mungkin ibu pernah menggosipkan Anda. Ibu selalu memulai gosipnya dengan, ‘Eh, jangan bilang-bilang ya, ini bukan gosip, tapi pelajaran. Ibu menceritakan ini karena ibu pengin kalian belajar supaya tidak meniru perbuatan tercela seperti itu. Nah, kamu tau pak Anu? Dia selingkuh dengan Bu Itu. Semua orang tahu Bu Itu goblok setengah mati kecuali soal begituan.’ ‘Ya ampun, itu namanya menggosip, Bu,’ kata kami, ‘terus bagaimana?’. Ah, ya, bila diingat-ingat, kami selalu menanti ibu pulang. Ia sering membawa oleh-oleh makanan kecil. Makanan kecil itu jatah snack-nya di rumah sakit atau di arisan. ‘Bagaimana aku bisa makan bila aku tahu kalian belum makan.’ Atau ‘Aku tahu kamu suka kue sus, jadi waktu ibu tahu snack hari ini adalah kue sus, ibu membawanya pulang.’ Waktu itu tidak terpikir bahwa ibu pun lapar, bahwa ibu pun ingin makan. Kami lupa bahwa ibu adalah manusia. Bila tidak membawa snack, ibu membawa pulang itu tadi: bahan gosip. Meski kami semua menutup telinga dan berteriak bahwa menggosip itu menjijikkan, detik berikutnya kami ternganga mendengar semua cerita ibu. Kami tertawa terbahak-bahak mendengar cerita ibu dan temannya ‘melempar’ mayat lalu lari pontang-panting karena tiba-tiba ketakutan di depan kamar jenazah. Kami terpana ketika ibu bilang nenek kami meninggal karena disantet –dan penyantetnya meninggal tepat empat puluh hari kemudian--. Waktu ibu sudah mulai sakit-sakitan, saya sering meminta ibu mengulang cerita-cerita lama. Saya seperti ingin mendekap semua kisahnya, mendengar setiap detailnya, hingga saya bisa mengingatnya dengan jelas. Selamanya. Ketika ibu sudah tiada yang saya punya tinggal cerita itu. Rumah kami mendadak dingin dan sunyi. Lalu saya menyadari ibu adalah pusat dalam keluarga kami. Ia adalah pendiangan di dapur kami, selimut di ranjang kami, perekat yang menyatukan kami. Saya ingat kami begitu sering merubung ibu. Kalau tadi saya bilang ibu tidak memasak makan malam, itu hanya kadang-kadang. Dan saya bersyukur karena yang ‘kadang-kadang’ itu membuat kami mandiri. Saat ibu mulai menua, kami bisa menuruni sebagian keahlian memasaknya dan melanjutkan tradisi keluarga yang dulu senantiasa dilakukannya. Para sahabat yang baik, Seperti Anda semua tahu, Ibu memang harus bekerja untuk kami semua. Ibu punya cita-cita tinggi untuk keempat anaknya. Banting tulang bukanlah pilihan, tetapi keharusan. Mengajar kami hidup hemat juga keharusan. Itulah mengapa uang saku kami semua lebih sedikit daripada teman kami yang lebih tidak mampu. Setelah saya pikir-pikir, itulah alasan kami bisa kuliah, mencicil kendaraan, memperbaiki rumah, dan berobat kala sakit. Soal perbaikan nasib, kami akhirnya juga harus berterima kasih pada ibu dan mengakui ibu benar. Sifatnya yang keras dan impulsif membuatnya berani mengambil keputusan, ekstrem sekali pun. Ia berani mengambil cicilan atau berhutang –meski di atas kertas hal itu membuat kami tak bisa makan--. ‘Tuhan punya matematika sendiri. Sudahlah, kalian tak usah ribut. Nyatanya kita masih makan tiga kali sehari, kan?’ selalu seperti itu ia berkata. Tak hanya makan tiga kali sebenarnya. Kami takjub ketika ibu bisa saya mengirim kami piknik sekolah ke Bali. Meski waktu itu dia sendiri tidak pernah piknik, ia berkata, ‘ikutlah, ini saatnya kamu mendapat pengalaman’. Tidak hanya membayar biaya bus, ibu akan membelikan kami baju dan tas baru yang pantas. Kalau dipikir lagi, ibu memenuhi semua yang kami butuhkan atau inginkan. Dia pernah berkata, ‘Demi membelikan baju kalian, aku rela tidak membeli kutang bertahun-tahun’. Waktu itu saya pikir dia bercanda, tapi kini saya tahu ia mengatakan yang sebenarnya. Bila ibu menolak membelikan kami video game, ibu pasti bukan karena ibu tak punya, tapi ia punya keyakinan bahwa itu tak berguna. Luar biasa, ibu saya yang kolot itu, punya pengetahuan mendidik anak yang sangat maju. Para takziah yang budiman, Sekarang Anda semua bisa melihat kami. Kami bisa berdiri tegak, masing-masing telah mandiri. Bila kalian menganggap kami berhasil, jangan tanya apa yang telah kami lakukan untuk meraihnya. Tanya apa yang telah ibu kami lakukan. Kami semua adalah gerabah yang hanya mewujud lewat tempaan tangannya. Pada hari ini ketika kami melihat ratusan sahabat berada di sini, mengantar ibu ke rumah abadi, kami tak bisa menyangkal lagi, betapa ibu kami begitu dicintai. Saya yakin ibu telah menyentuhkan tangannya kepada Anda semua tanpa henti. Sampai menjelang ia meninggal, ketika ia sudah sangat payah, ia masih terus mengunjungi tetangga-tetangga yang sakit dan menghibur mereka. Sungguh, kami beruntung bila kami mewarisi sepersepuluh saja dari sifat baiknya. Setelah kami dewasa, menjadi orang tua, barulah kami sadar betapa sulitnya hidup yang ia lalui. Betapa menyakitkan sikap kami pada beliau. Maafkan kami ibu, kami tidak memahami nilai mutiara di balik sikapmu yang kadang tidak menyenangkan. Kini kami tahu kami tidak bisa menjadi orang tua sebaik ibu. Ingin meniru pun sudah percuma. Butuh pribadi kuat luar biasa sepertimu untuk menjadi ibu yang tidak hanya baik, tapi sempurna. SELESAI PS: Ibu saya meninggal tahun 2009 setelah dua tahun berjuang menghadapi sirosis. Penyakit tersebut diduga kuat didapatkan ibu dari virus hepatitis menahun akibat pekerjaannya sebagai perawat yang selalu bersentuhan dengan penyakit. Pidato ini tentu saja tidak saya bacakan sewaktu ibu meninggal. Saya begitu berduka hari itu hingga tubuh saya mati rasa. Hingga tiga bulan kematiannya, saya masih menangis ketika mengenang beliau. Dua tahun setelah ia berlalu, saya masih mengingatnya dengan penuh penyesalan dan kerinduan. Saya menangis ketika mengemasi barang-barang ibu dan menemukan kartu ucapan selamat ulang tahun kami untuknya di dalam dompetnya. Sungguh, sebenarnya hati ibu amat lembut dan penuh kasih sayang pada kami semua. 
Perkembangan teknologi komunikasi benar-benar menggila dua dekade terakhir. Kabar yang dulu hanya bisa disampaikan lewat kode asap, morse, atau merpati pos dengan segala kesulitannya, kini bisa didapatkan hanya dengan memencet tombol. Lebih mudah? Ya. Lebih sederhana? Tidak. Maksud saya, tidak selalu. Kapan itu contohnya, adik ipar saya yang tinggal di Jepang –Fitri—menulis di wall FB saya, mengajak video call lewat Skype nanti malam. Jadi, malamnya saya online di Skype. Tapi saya lihat Fitri tidak online. Hm, di mana dia? Saya membuka YM, karena Fitri sering online di YM. Oh, ternyata dia juga tidak online di sana. Ini mulai seperti permainan ‘mencari jejak’. Syukurlah suami Fitri online di YM. Saya tanya dia di mana Fitri. Ia bilang Fitri sedang tidak enak badan. ‘Oke,’ saya ketik di jendela YM, ‘Kita video call skype kapan-kapan’. Hadoh, ribet bener. Saya hanya punya sedikit akun di dunia maya, oke tiga e-mail, tiga akun multiply, tiga akun facebook, satu akun goodreads, satu friendster (yang sudah sekarat), eh banyak ya? Tidak, saya tahu itu memang sedikit. Saya bahkan tidak punya akun twitter. Teman saya bilang suatu saat akan ada teknologi yang menyatukan semua akun dan bisa mengecek di mana kita online; di hape atau di facebook atau di YM, dst (atau di planet Uranus, batin saya). Anyway, akun yang sedikit itu pun sudah bikin saya mumet. Komunikasi tumpang tindih sering terjadi. Seseorang menulis di wall FB saya, ‘Ken, aku kirim pesan di inbox-mu, cek ya.’ Atau ‘Mbak, saya kirim e-mail ke kamu, buka ya.’ Kadang juga melalui SMS atau telepon, ‘Ken aku barusan kirim e-mail, cek ya.’ Oke, jadi sekarang bila kita mau bicara dengan seseorang, kita harus bicara padanya paling tidak dua kali. Satu untuk bicara, dan satu untuk memberitahu orang tersebut bahwa kita bicara padanya. Kadang sekadar pemberitahuan tidak cukup, karena kita akan balik bertanya, “Kirim ke mana? Yahoo? Gmail? Facebook?” Berserakan Dengan segala simpang siur akun di dunia maya, pesan-pesan sangat mudah terselip dan terabaikan. Contoh, ketika saya mengumumkan bahwa saya menjual novel saya lewat album foto facebook, orang-orang menanyakan cara memesan novel itu di wall, di album foto, di inbox. Haduh, repot bener yak. Saya seperti punya banyak kotak surat dan tersebar di mana-mana. Repotnya lagi, kadang pertanyaan dan komentar itu tertulis sembarangan sehingga membingungkan. Misalnya saat saya memasang foto reuni SMP, tiba-tiba di bawahnya ada orang tidak dikenal menanyakan apa judul novel terbaru saya. Blog saya juga mengalami hal yang sama. Di bawah blog yang membahas “Cara Membangun Karakter” ada yang menanyakan cara mengirim cerpen. Alih-alih menanyakan pertanyaan pribadi lewat inbox, mereka menanyakan –sekaligus mengumumkan kenaifan mereka—lewat wall atau beranda. Yeah, saya benar-benar minta maaf karena saya tidak konsekuen dengan semua akun saya. Saya sering tidak membalas seluruh komentar, meski saya sudah berusaha. Rasanya kok semakin tidak mungkin itu meladeni semuanya. Bicara dengan Tembok Yang lebih mengerikan adalah semua teknologi komunikasi itu ternyata tidak membuat kita benar-benar berkomunikasi. Saya kadang menuliskan kalimat sederhana di mailing list seperti “makasih” atau “wah, menarik” karena tidak ada yang menanggapi e-mail yang ditulis oleh salah satu anggota milis dengan panjang dan tulus. Oke, saya tahu, bicara di mailing list seperti bicara di kerumunan tanpa merujuk pada orang tertentu. Jadi harap maklum kalau tidak ditanggapi. Tapi tetap saja saya merasa tidak enak untuk mengabaikannya. Coba deh, bagaimana rasanya kalau ada bicara di dalam seminar dan dicuekin oleh semua peserta seminar? Oke, mungkin milis dan internet masih punya penafian; tidak semua mengakses internet tiap hari; e-mail bisa masuk folder spam; e-mail entah bagaimana tidak terkirim. Tapi bagaimana dengan SMS? Saya beberapa kali menyebar undangan lewat SMS dan meski sudah saya tulis, ‘harap balas’, ternyata banyak yang tidak membalas. Padahal saya tidak akan sakit hati bila ia menjawab tidak bisa datang. Lebih baik ditolak daripada dicueki. Saya pernah marah pada seorang teman, “Hey, kenapa kamu tidak membalas SMS-ku?” “Oh, harus dibalas, ya?” katanya dengan innocent. Ugh, rupanya tidak membalas SMS atau e-mail adalah sebuah tren dan saya ketinggalan tren tersebut. Seorang teman mengirim SMS, meminta bantuan saya untuk mencarikan guru matematika untuk anaknya. Saya membalas, mengupdate tiap usaha saya untuk mendapatkan guru tersebut, membuang pulsa untuk menghubungi guru itu dan sebagainya. Akhirnya saya berhasil dan guru tersebut datang mengajar anaknya. Hebatnya, teman saya ini sama sekali tidak memberi tahu saya atau mengirim SMS sebatas untuk mengucapkan terima kasih. Hal seperti itu menyakitkan bagi saya yang terbiasa membalas SMS, bahkan yang tidak penting seperti, “Aku ganti alamat e-mail ke blabla@gmail.com”. Sangat menyakitkan bagi saya yang selalu menelepon atau mengirim SMS kepada sehabis traveling untuk mengabari, “Saya sudah sampai rumah dengan selamat. Terima kasih atas bantuannya selama saya menginap di Bandung.” Saya ingat almarhum bos saya, Pak Farouk. Dia selalu membalas e-mail bahkan e-mail-email yang ‘nggak penting’. Sekretaris kantor, Orin, selalu mengirim e-mail pemberitahuan kepada semua staf bila ada hal yang perlu kami perhatikan, misalnya “Hari Jumat kulkas kantor akan dibersihkan, harap ambil makanan/minuman milik Anda” atau “Senin ada kunjungan dari instansi X, harap berpakaian resmi.” Biasanya e-mail seperti ini akan dibuka lalu dibiarkan. Orin juga menganggap tugasnya sudah lunas dan semua orang dianggap sudah tahu. Tapi Pak Farouk akan membalas dengan kalimat, “Noted, thanks.” Orin rupanya tersentuh dengan balasan tersebut. Seolah-olah dia baru menyadari bahwa benar-benar ada orang yang membaca pesannya dan menanggapi kata-katanya. “Aku akan melakukan hal yang sama, membalas e-mail,” katanya. Kentongan Lebih Baik Saya jadi merindukan zaman dulu. Saat kita menerima surat yang benar-benar ditujukan dan bicara pada kita. Mungkin hanya satu atau dua surat, tapi benar-benar ‘bicara’ alih-alih puluhan e-mail yang lebih banyak sampahnya daripada pentingnya. Saya merindukan ketika undangan diberikan lewat pintu dan kita bisa bercakap-cakap sejenak pada si pengirim undangan. “Oh, Dini akan menikah? Dengan siapa? Oya, gimana kabar adik Dini?” Saya merindukan ketika rapat diadakan di balai kampung dan bukannya lewat mailing list. Teman kita akan mendengarkan dan menanggapi usul kita, bukannya men-delete, mengabaikan, atau membaca, tapi tidak membalasnya. Anda pernah mengelirukan garam sebagai gula? Atau sebaliknya? Kopi yang seharusnya manis justru berasa asin? Apakah itu lucu sekali menurut Anda? Mungkin, tapi dijamin kalah lucu dibanding cerita ‘keliru’ berikut ini. Suatu hari Mbah Jayeng Sekarno –Mbah Buyut Kakung saya—hendak memasak daging. Hari itu adalah hari Minggu yang cerah. Mereka sekeluarga ‘nglegakke’ pengin makan enak. Biar masakannya ‘mak nyus’, Mbah Jayeng menuang kecap ke dalam masakannya. Tapi, seketika daging dan seluruh masakan itu jadi putih! Hoaaa, ternyata yang dia tuang adalah KARBOL. Itu lho cairan pembersih lantai. Kok bisa? Oalah, ternyatadi zaman itu, botol kecap dan botol karbol itu mirip. *Hedew untung sekarang tidak. Ada kejadian lain yang membuat Mbah Jayeng lebih sengsara. Suatu hari dia membuat sambal terasi. Waktu dia mencari-cari terasi, ketemulah benda yang dicari teronggok di meja. Heran juga, kenapa terasinya bisa ada di situ padahal biasanya si terasi ini ada di wadah tersendiri. Tapi ya sudahlah yang penting ada gitu loh. Herannya, waktu sambal itu dimakan, rasa terasinya nggak ada sama sekali. Yang ada adalah rasa lain yang rada errrr, ... eksotik. Ternyata eh ternyata, benda yang disangka terasi tadi adalah TAI AYAM! Ya ammpppyyuuuun. Itu ayam, kenapa bisa menelurkan ‘terasi’ di atas meja, sih? Yah dulu, biasalah ternak sama manusia masih sering berbagi ruangan rumah. Yang ini adalah cerita Mbah Sastro –pembantu kami dulu-- (ada apa dengan para simbah?). Simbah Sastro ahli banget bikin sayur lodeh. Sayur lodeh bikinan dia mak nyus banget. Tapi hari itu sayur lodeh gori –nangka muda—buatannya terasa lain. Rasanya asem banget. Asemnya itu seperti apa ya... bukan asem karena basi, tapi kayak asem sirup orson. Kami semua bertanya-tanya. Mbah Sastro sendiri juga bingung. Selidik punya selidik ternyata dia menuangkan sitrunsir –perisa asam yang biasa dicampurkan pada jeli dan sirup--. “Ya ampun, aku kira itu tadi micin,” kata Mbah Sastro yang memang buta huruf. Lain lagi cerita Pak Karmadji –teman ‘seperjuangan’ ayah saya--. Suatu siang, dia datang ke rumah ayah. Dia merasa haus dan langsung meneguk air dari cerek. Dan seketika itu juga, “mbrruuaaahhhhh’, dia memuntahkan air yang ia teguk. Bwuah, ternyata cerek itu berisi minyak tanah! Bukan salah Pak Karmadji juga sih karena di rumah itu ada dua cerek yang sama persis, satu buat nyimpen air minum, satu buat nyimpen minyak tanah. Kok, bisa air dan minyak tanah disimpan di tempat yang bentuknya sama? tanya saya kepada ayah. “Nggak tahu juga kenapa ibuku melakukan hal itu,” jawab ayah. Yaaaaahhh. Kalau yang ini cerita Pak Cipto. Pada zaman dulu, lumrah orang memasak dengan kuali tanah liat. Nah karena dibuat dari tanah liat, kuali itu berpori sehingga terkadang air merembes. Supaya tidak merembes, sebelum digunakan kuali tersebut harus dipakai merebus daun bunga sepatu. Konon, zat yang terkandung dalam daun bunga sepatu bisa membuat pori kuali rapat. Sore itu Pak Cipto pulang ke rumah dan mendapati anaknya menangis karena lapar. Segeralah Pak Cipto menyiapkan makanan, mengambil masakan dari kuali dan menyuapi anaknya. Tapi, loh, si anak kok ‘nggaber-nggaber’ alias menyembur-nyembur dan melepeh-lepeh makanannya? Setelah dicek, barulah Pak Cipto sadar bahwa itu adalah sayur kuah bunga sepatu. “Aku pikir sayur daun mbayung atau apa gitu,” katanya waktu menceritakan peristiwa itu pada keluarganya. Yang satu ini adalah cerita wong nggragas. Sebut saja Pak X. Malam itu dia menghadiri kondangan. Setelah doa-doa selesai, tibalah saat makan. Piring-piring dengan segala macam makanan mulai beredar. Di tengah-tengah waktu makan, dia melihat remah kerupuk di lantai. Yah, pikirnya, mumpung belum lima menit, dia pungutlah remah itu dan hap, masuk mulut. Tapi, huwah, kerupuk kok rasanya uaneh. Oh, ternyata yang dia pungut itu adalah rantapan –alias guguran—tembok lapuk. Hm, gini kali ya rasa makanan ala koruptor wisma atlet hahaha. Alkisah, suatu hari Nasrudin Hoja pergi ke pasar bersama anak lelakinya yang masih muda belia. Karena pasarnya agak jauh dan mereka akan membeli banyak barang, Nasrudin pun membawa keledai peliharaan mereka. “Naiklah ke punggung keledai itu, Nak,” kata Nasrudin. Maka naiklah si anak, sementara Nasrudin berjalan menuntun si keledai. Tak berapa lama, mereka berpapasan dengan seorang kakek keriput. Si kakek berkata, “Hah, dasar anak tak tahu diri. Enak-enak duduk di punggung keledai, sementara ayahnya berlelah-lelah jalan kaki. Ayahnya juga nggak bisa mendidik anak.” Nasrudin merenungkan komentar kakek tadi. Maka ia pun menyuruh anaknya turun. Sebagai gantinya, ia yang naik punggung keledai. Lalu mereka berpapasan dengan seorang ibu berkumis (idih). Si ibu berkata, “Hah, dasar laki-laki brengsek. Teganya dia duduk di atas keledai, sementara anaknya ‘kecingkrangan’ jalan kaki.” Ups. Nasrudin pun buru-buru turun. Mereka menuntun keledai itu berdua. Baru berjalan tiga meter, eh ada bencong lewat. Si bencong dengan genit berseloroh, “Aih, Om dan Adik ini bego deh. Ada keledai kok dianggurin. Sini buat eike aje. Biar eiki satai di pantai, wikiki.” Hah! Panik, Nasrudin pun naik ke punggung keledai. Anaknya diajak serta. Mereka menunggangi keledai berdua. Baru berjalan sepuluh meter (tawa ala mak lampir si bencong aja masih kedengaran), mereka bertemu dengan seorang tentara. “Heh, kalian berdua. Turun kalian!” tentara itu membentak, “Dasar manusia kejam. Apa tidak kasihan kalian pada keledai ini, bah? Sudah kurus, jelek, eh, masih kalian siksa. Mau kulaporin pada kopassus?” Kali ini emosi Nasrudin meluap. Dari tadi disalahin melulu. Ia turun dan menariknya anaknya serta. “Heh, tentara orba, gue udah empet gara-gara komentar orang-orang resek. Lihat nih!” Nasrudin dengan cekatan mengikat kaki-kaki keledainya lalu memanggul binatang itu di atas punggungnya. “Gue dan anak gue mau panggul binatang ini ke pasar. Kalau lo belum puas, tembak saja deh!” Si tentara hanya bisa bengong. Senasib Saya mengingat kisah Nasrudin di atas karena baru-baru ini saya mengalami nasib serupa. Saya serasa menjadi Nasrudin, Angger menjadi si anak, dan Anto jadi keledainya (ini perumpamaan saja kok suamiku sayang, maap ya). Suatu pagi saya berjalan ke pasar sendirian. Tetangga nyeletuk, “Lho anaknya nggak diajak?” Haduh, ngajak anak berusia tiga bulan ke pasar itu benar-benar ribet. Menggendongnya mulai bikin capek, si bayi juga udah bisa melonjak-lonjak dan menangis. Tapi kok kesannya saya jadi ibu kejam bila meninggalkan anak, meski hanya 15 menit untuk belanja. “Sama siapa anaknya?” Biasanya si tetangga akan bertanya. “Sama tantenya/ayahnya/si Mbak,” jawab saya. “Ohhh,” mereka lalu berkata penuh pengertian. Kadang mereka mengajukan asumsi sendiri, “Lho, kok anaknya nggak diajak. Lagi bobok ya?” Saya akan menjawab ya, meski pada kenyataannya Angger tidak bobok. Masak saya harus menerangkan panjang lebar bahwa Angger sedang di depan komputer dan menganalisis fluktuasi valas sih? Giliran saya membawa Anger ke pasar, ada yang komentar, “Lho, kok bayinya dibawa?” dengan nada menuduh bahwa saya ibu tak tahu diri yang membiarkan anaknya bercapek-capek dan berkotor-kotor belanja. Waktu saya dan Anto mengajak Angger berjalan-jalan malam (karena dia nggak bisa tidur dan biasanya jalan-jalan membuatnya tertidur), ada yang komentar, “Malam-malam kok diajak keluar?” Ketika saya mengajak Angger beli es krim di siang hari, eh teteup dikomentari, “Kok bayinya diajak berpanas-panas?” Astaga. Saya harus bagaimana? Selain itu ada saja komentar yang lain. “Kok nggak pakai topi?” “Kok nggak bawa payung?” “Kok nggak pakai kaus kaki?” Grrrkkkkhh. Lain waktu, Anto menggendong Angger dan saya menenteng belanjaan. Rupanya ini keliru juga karena seorang ibu tua berkata, “Seharusnya ibunya yang menggendong, bukan ayahnya.” Hah! Pengin saya berteriak, “Ibunya tuh sudah menggendong dia sembilan bulan dalam kandungan. Setelah lahir, ibunya juga menggendong bayi dari pagi sampai sore karena bapaknya kerja. Masak bapaknya menggendong 30 menit aja nggak boleh, sih?” Tapi saya tentunya memilih tersenyum saja, menahan lidah sekuat mungkin. Soalnya kalau semua komentar orang ditanggepin, jangan-jangan saya berakhir seperti Nasrudin yang harus memanggul keledai! Ah, reuni selalu mengingatkan betapa waktu berjalan dengan cepat. Rasanya baru kemarin saya dan teman-teman SMA bercinta-cinta monyet, mengurusi jerawat dan mengobrolkan kakak kelas yang cakep. Kini, lima belas tahun setelah itu, kami sudah jadi emak-emak berbobot, maksudnya bobot badannya bo’, melar kiri kanan. Yang cowok juga mulai berperut buncit dan bertipis rambut. Dan yang diobrolin itu lho...serius banget: masalah rumah tangga! Salah seorang teman pria mulai melempar topik cinta vs kenyamanan pada reuni kami sore itu. “Dengan pasangan kalian saat ini, apa yang kalian rasakan? Cinta atau kenyamanan?” Dia bilang bahwa yang dia rasakan adalah kenyamanan. Cinta (yang ia identikkan dengan sex, karena menurutnya itulah persepsi kebanyakan pria, cinta sama dengan sex) sudah mulai luntur. Ia bisa merasakan ‘cinta’ pada perempuan lain, sementara tidak ada perempuan mana pun yang bisa membuatnya nyaman seperti istrinya. Saya dan seorang teman perempuan sepakat bahwa setelah sekian tahun menikah kami tetap merasakan cinta dan kenyamanan. Cinta (yang tidak selalu berhubungan dengan sex) malah makin besar, kata teman saya. Teman saya ini bilang ditinggal suaminya beberapa saat saja membuatnya kelimpungan. Orang bilang, pria menggunakan cinta untuk mendapatkan sex, dan perempuan menggunakan sex untuk mendapatkan cinta. Mungkin ada benarnya. Bagi perempuan sex tidaklah begitu penting. Kalau pun penting, fungsinya lebih untuk merekatkan kasih sayang, mendongkrak percaya diri, mendapatkan perasaan dibutuhkan, dipuja, dan dicintai, seperti, “Oh, aku masih cantik. Suamiku tetap menginginkan aku.” Soal nyaman versus cinta tadi, saya juga merasa bahwa seiring waktu saya makin nyaman dan makin cinta. Karena, seperti pernah saya tuliskan di blog ini, waktu membuat saya melihat kualitas-kualitas dalam diri suami yang tidak saya lihat dulu. Anto mau mencucikan baju saya ketika PRT cuti misalnya, adalah kualitas dalam diri Anto yang membuat saja jatuh cinta lagi. Dan saya tidak ragu Anto juga menemukan kualitas-kualitas baru dalam diri saya yang membuatnya makin mencintai saya. Tentang Kesetiaan Obrolan berlanjut. Kali ini kami membicarakan kesetiaan dan perselingkuhan. Saya bercerita bahwa sempat selama empat tahun saya dan Anto tinggal berjauhan. Dan saat itu tidak ada keraguan sedikit pun tentang kesetiaan Anto pada saya. “Ah, kamu kan nggak tahu saja apa yang dilakukan suamimu,” seorang teman menggoda. “Apa yang tidak kamu ketahui tidak akan menyakitimu, kan?” kata saya. “Aha, setuju!” kata teman saya lagi. “Tapi sebetulnya,” kata saya, “Seorang perempuan pasti tahu kok kalau pasangannya berselingkuh. Soalnya laki-laki itu bukan pembohong yang baik.” Ada seorang teman yang curhat, “Bagaimana bila suamiku selingkuh dan aku nggak tahu?” “Kamu pasti akan tahu!” kata saya. Berbohong, soal apa pun, butuh keahlian tinggi. Saya pernah mendengar teori bahwa laki-laki dan perempuan sebenarnya punya kecenderungan bohong yang sama. Namun, perempuan memiliki perhatian lebih terhadap pasangannya sehingga lebih mudah mendeteksi kebohongan pasangannya. Sementara pria lebih cuek. Itulah mengapa timbul kesan laki-laki lebih sering berbohong. “Bagaimana kalau si lelaki pembohong kelas kakap?” Hm, pasti ada lelaki yang punya ‘keahlian’ di atas rata-rata. Tapi kalau kita sebagai istri benar-benar fokus dan selalu memerhatikan keluarga, kita pasti bisa mendeteksi perubahan sekecil apa pun itu. Hanya saja, kadang seorang istri sudah terlalu sibuk mengurus anak atau disita habis oleh pekerjaan sehingga perhatian ini melemah. Terkadang ‘radar’ sudah berdenging pun diabaikan. Bahkan dalam beberapa kasus, ketika tahu suaminya selingkuh pun, si istri membiarkan. Dalihnya, “Biar deh, asal anak-anak nggak tahu. Biar deh, asal keluarga saya tetap utuh. Biar deh, asal seluruh gaji pokoknya tetap buat keluarga.” Perceraian itu ribet, memalukan, menakutkan. Dan dalam beberapa kasus, membuat seorang wanita benar-benar tidak berdaya secara ekonomi. Saya tahu cerita seorang perempuan yang mengetahui suaminya selingkuh dan memilih diam saja. Ada juga seorang teman yang berkata pada saya –setelah suaminya meninggalkannya dan kawin siri dengan perempuan lain--, “Padahal, Mbak, selama ini saya tahu dia punya wanita lain. Tapi saya biarkan. Prinsip saya, biar botol itu isinya tumpah ke mana-mana, yang penting botolnya kembali pada saya.” Yailah, segitu pasrahnya. Teman saya langsung heboh ketika saya menceritakan prinsip perempuan tersebut. “Aduh, bo’, yang penting balik ya, biar botolnya udah retak,” seloroh seorang teman. Teman saya yang lain punya prinsip yang ia tekankan pada pasangannya, “Peraturan pertama: jangan selingkuh. Peraturan kedua: kalau selingkuh, jangan sampai ketahuan. Peraturan ketiga: kalau ketahuan jangan ngaku!” Hedew. Bagaimana dengan peraturan saya. Cuma ada dua. Pasal satu: dilarang selingkuh. Pasal dua: kalau selingkuh, lihat pasal satu! Ada ungkapan, “Tetangga yang baik itu lebih baik dibanding saudara yang jauh.” Bagaimana dengan tetangga yang buruk? Tetangga yang buruk itu lebih baik dibanding ... err, tidak ada yang lebih baik dibanding tetangga yang buruk. Tetangga yang buruk itu menyebalkan, menjengkelkan, bikin senewen! Dan kalau bisa sih, digusur saja beramai-ramai. Kalau bisa sih. Kenyang sudah rasanya kami menghadapi tetangga yang super ajaib. Tetangga yang membuang sampah di kebun kami misalnya. Ketika dikonfrontasi, katanya, “Lah, rumahnya sepi kok.” Eh, kalau soal sepi, kuburan juga sepi! Buang aja di sono, no. Atau tetangga yang punya hobi mem’fogging’ seluruh RT. Entah kenapa, tetangga di sekitar saya hobi bener bakar sampah. Pagi hari, tetangga A membakar sampahnya. Siangnya, giliran tetangga B yang bakar-bakaran (barbeque kaleee). Eh, sorenya si C ikut-ikutan mem’fogging’. Kalau pas kompak, dalam satu sore, mereka semua membakar sampah bersamaan. Asap mengepung dari kanan kiri, atas bawah. Ya, ampun, tahu nggak sih kalau itu menghasilkan gas beracun yang berbahaya bagi paru-paru? Mana jemuran baju jadi ikut-ikutan bau. Ayah saya yang tiap hari bermeditasi di kebun sering sewot kalau jadwal meditasinya bersamaan dengan jadwal ‘fogging’ tetangga. Penginnya menyegarkan paru-paru, eh dapatnya sesak napas. Heran juga, di RW kami sudah ada layanan pembuangan sampah. Lah, kok pada repot-repot bikin ikan asap, eh, manusia asap. Terus apa yang saya lakukam? Eh, saya ... ya diam saja. Orang Jawa gitu. Sudah budaya kami untuk menghindari konflik. Jadi saya ini melestarikan budaya gitu loh. Nggak Dapat Anaknya, Dapat Sampahnya. Akhir-akhir ini adik saya Timbul menyumpah-nyumpah. Tugas hariannya adalah menyapu halaman belakang. Halaman belakang ini tidak berpagar. Hanya dibatasi dengan semak teh-tehan (semak yang bentuknya mirip pohon teh). Nah, karena terbuka itulah, halaman itu sering dipakai bermain anak-anak tetangga yang memang sudah kehabisan lahan bermain. Kami tidak mempermasalahkan itu. Yang kami permasalahkan adalah sampah mereka yang ya ampuuunnn... mereka ini anak manusia atau anak gerandong sih? Sudah ada tempat sampah di situ, sudah kami peringatkan berkali-kali, “Dik buang sampah di tempat sampah ya.” (Udah mending lho, nggak kami suruh, “Dik kalau sampahnya organik, di buang di sini, yang non-organik dibuang di sana. Pasti nggak nyampai deh di otak mereka), eh tetap saja sampah bertebaran dari Sabang sampai Merauke sehabis mereka bermain. Waktu diperingatkan memang mereka patuh. Langsung bergegas memunguti sampah. Tapi ya namanya nggak dididik di keluarga, apalah arti peringatan sekali dua dibanding kebiasaan menahun? “Hedew, yang punya anak tetangga, kok gue yang ngurusin sampahnya?” Timbul misuh-misuh. Kali lain dia misuh-misuh karena, “Gile, yang punya ayam tetangga, kok gue yang harus ngebersihin tainya?” Yup, tetangga kami ada yang memelihara ayam (belasan) dan ayam-ayam itu sama seperti manusia yang saya ceritakan tadi, juga lebih suka buang sampah di rumah tetangga. Kalau buang telur? Ya di rumahnya sendiri dong. Pinter, kan? Menggelantang Seperti saya ceritakan tadi. Halaman belakang rumah kami dibatasi dengan semak teh-tehan. Bagi kami, itulah pagar rumah kami. Tapi rupanya bagi tetangga kami, itu adalah ... tempat jemuran. Beneran lho, ada tetangga kami yang rutin menjemur apa pun di situ. Paginya dia jemur kutang, sorenya jemur rantang. Onderok-onderok melar dan handuk luwuk di’jereng’ di situ. Aduh, saya takut kena fitnah, disangka sebagai pemilik onderok melar tadi. Mau ditaruh mana harga diri saya? Pada suatu hari berdebu, Timbul membersihkan halaman, dan walhasil debu pun bertebaran menyerang jemuran handuk tetangga yang nangkring di semak teh-tehan tadi. Kebetulan si tetangga sedang berada di sekitar situ. Timbul dengan takzimnya berkata, “Aduh, Bu, maaf nih, handuknya jadi kena debu.” Si tetangga dengan sangat lapang dada berkata, “Nggak papa, Mbak. Sudah santai saja.” Aje gile bajej. “Kenapa sih itu tetangga hobi menjemur di atas tanaman kita?” kata Timbul. “Eh, elo ingat kagak pelajaran PKK waktu SMP?” kata saya. “Itu dinamakan menggelantang, yaitu menjemur pakaian di atas rerumputan hijau. Fungsinya mengawetkan pakaian dan memelihara warna baju.” Hanya saja saya nggak ingat bahwa menggelantang sebaiknya dilakukan di kebun tetangga.
Sampai lupa untuk memberitahu teman-teman sekalian. Novelku yang terbaru sudah terbit lho. Judulnya Pieces of Joy. Ini sinopsisnya: Ken Terate Teens, TeenLit GM 31201110033; ISBN 978-979-22-7126-3; 13.5 x 20 cm; 248 hal Rp. 40,000 Joyce Nadira akhirnya mendapatkan apa yang didambakannya selama ini: seorang pacar! Dunianya mendadak indah. Hidupnya jadi berarti. Tetapi Joy akhirnya tahu bahwa Stink-si pangeran tanpa cela itu: a. Nggak tahu apa fungsi jam b. Sinis pada sahabat-sahabat Joy c. Nggak becus bahkan buat mempertahankan kuliahnya. Haruskah Joy bertahan, mengingat ia mencintai Stink dan Stink pun sangat memujanya? Apalagi Stink sudah menerima Joy yang jerawatan, gendut, dan nggak fashionable. Itu kan berarti Joy juga harus melakukan hal yang sama. Itu kan arti cinta? Eh, atau bukan begitu? Sialnya, Joy bertemu Ronal yang menyadarkannya bahwa ada banyak cowok yang jauuuh lebih baik daripada Stink. Hm. kok Joy jadi membandingkan Stink dan Ronal ya? Joy makin pusing karena ia sedang mempersiapkan pentas teater perdananya. Ia mengincar peran utama. Apakah ia akan terpilih? Nggak gampang lho, karena saingannya cewek berbodi sempurna. Dalam pentas ini, seperti juga dalam kehidupan cintanya, Joy begitu gemas ingin menyatakan penampilan luar bukanlah segalanya. Akankah Joy berhasil? 
Ayah bercerita: Zaman dahulu kala di sebuah kampung di Yogyakarta, tersebutlah seorang anak muda jail bernama Marleo (kelihatannya nama asli). Suatu hari di kampung itu ada orang meninggal. Seperti lazimnya, beberapa orang pemuda berangkat untuk mengambil ‘bandosa’ (kereta jenazah atau keranda) yang disimpan di masjid. Mengetahui itu, Marleo lari ke masjid mendahului teman-temannya. Saat itu sudah menjelang maghrib dan senja mulai turun. Sesampai di sana, Marleo langsung masuk ke dalam bandosa dan menarik kain selubungnya hingga bandosanya tertutup. Dia berbaring diam di situ. Saat mendengar teman-temannya mendekat dan akan mendorong bandosanya, tiba-tiba dia bersendawa dengan keras, “Gleeegeekkkheeeiiiik.” (Kayaknya dia memang bisa bersandawa kapan pun dia inginkan). Huaaa. Kontan para pemuda itu lari ngacir. Tak seberapa lama, para pemuda yang kaget itu berhasil menenangkan diri dan kembali ke masjid. Ketika mereka hendak mendorong bandosa itu untuk kedua kali, kembali, “Gleeegeekkkheeeiiiik” terdengar begitu keras dari dalam bandosa. Huaaa, mereka lari pontang-panting lagi. Si Marleo karena nggak tahan, langsung tertawa terpingkal-pingkal dan terbongkarlah kejailannya. Tamat. “Aneh deh, mendengar anak-anak tetangga berbicara dalam bahasa Indonesia,” kata Anto suatu hari. Di belakang rumah, setiap sore anak-anak tetangga bermain. Beberapa dari mereka bercakap dalam bahasa Indonesia. Itu yang dibilang aneh oleh Anto. Memang aneh sih, mengingat orang tua mereka adalah orang-orang Jawa yang bisa berbahasa Jawa. Haha, Anto belum pernah menyaksikan yang lebih aneh. Di mal-mal Jakarta, anak-anak berlarian dan saling meneriakkan kata-kata dalam BAHASA INGGRIS! “Hey, you, wait up.” “Harry up, you slug.” Itu memang kalimat saya sendiri, tapi intinya semacam itulah percakapan anak-anak seusia SD di Jakarta. Sampai-sampai saya bertanya-tanya, ini New York atau Kebon Kacang sih? Saya sebagai “orang bahasa” pastinya ingin anak saya menguasai bahasa asing, minimal bahasa Inggris. Sudah terbukti kok, banyak keuntungan yang bisa didapatkan dengan menguasai bahasa asing. Selama ini saya hidup dari bahasa, mulai jadi guru bahasa Inggris hingga jadi penerjemah. Justru karena saya bisa berbahasa Inggris, saya juga sangat ingin Angger menguasai bahasa ibunya, bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Karena, sebaik apa pun bahasa Inggris Anda, bila Anda tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik, Anda tidak akan bisa jadi penerjemah atau penyusun kamus. Anda nggak akan punya nilai lebih dibanding orang Inggris atau Amerika pada umumnya. Kekayaan Saya ingat omongan dosen tamu di kampus saya dulu yang berasal dari Amerika, “Saya sungguh iri dengan kalian. Kalian menguasai minimal tiga bahasa; bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Kami di Amerika begitu manja karena bahasa kami menjadi bahasa Internasional. Akibatnya kebanyakan kami tidak merasa perlu belajar bahasa lain. Padahal bahasa adalah kekayaan.“ Karena bahasa adalah kekayaan, maka semakin banyak bahasa yang Anda kuasai, makin kayalah Anda. Apa benar? Jelas benar! Saya yang hanya bisa satu bahasa asing saja merasa begitu kaya kok. Minimal saya sudah bisa beli hape, laptop, sampai piknik ke luar negeri gara-gara kemampuan berbahasa Inggris. Coba deh saya juga bisa berbahasa Prancis atau Arab atau syukur-syukur Slovakia. Serius deh. Bahasa “paling murah” adalah bahasa Inggris. Kalau Anda pergi ke agen penerjemahan, pasti harga untuk menerjemahkan dokumen ke dalam bahasa Inggris lebih murah daripada menerjemahkan, katakanlah, ke bahasa Jepang. Oke, saya memang menafsirkan ‘kekayaan’ di sini dari segi yang sangat praktis dan materialistis. Meski sebetulnya ‘kekayaan’ yang dimaksud jauh melampaui itu. Ilmu, wawasan, dan pemahaman atas suatu budaya adalah kekayaan yang tidak dapat diukur. Itulah yang menjadi keresahan Anto. Apa jadinya bila anak-anak Jawa kehilangan kejawaannya atau paling tidak kehilangan pemahaman atas budaya ibunya? Bagaimana mungkin mereka memahami keasyikan nonton wayang, keunggulan jamu jawa, atau kelucuan dagelan bila mereka tidak mengerti bahasa Jawa? Siapa yang rugi coba? Melatih Angger Untuk itulah, kami bertekad untuk membekali Angger dengan bahasa ibu kami. Angger harus bisa berbahasa Jawa, bahasa Jawa yang halus kalau bisa. Jadi kami bicara padanya dengan bahasa Jawa, kadang dengan bahasa Indonesia. Sesekali saja (jarang banget) pakai bahasa Inggris. Lagu-lagu yang kami nyanyikan untuknya juga terdiri dari tiga bahasa itu. Tapi belum-belum, saya sudah putus asa dengan misi saya tadi. Gimana nggak? Suatu saat, saya mengamati tas bayi Angger yang saya gunakan bila kami bepergian dan saya melihat tulisan ini: Hai baby I am a squirel The cute squirell Don’t be afraid I’m not naughty Just jumping Let’s jump together  Ya ampuuuunnnn. Maksudnya apa sih? Ajaib banget. Lebih ajaib memang bila tulisan itu ada dalam bahasa Indonesia. Halo bayi Aku tupai loh Tupai yang lucu Jangan takut dong Aku nggak nakal kok Cuma lompat-lompat Yuk, lompat-lompat bareng Saya kadang berpikir dari mana orang-orang ini mendapatkan ide untuk menulis kata atau kalimat seaneh itu di baju, tas, atau sprei bayi (kadang baju orang dewasa juga sih). Di sinilah ‘lubang’ nya, karena ditulis dalam bahasa asing, kalimat yang aneh pun terasa wajar saja. Sprei Angger misalnya ada yang bertuliskan Hey Hey Hey/ Flowers Flowers/Happy Happy. Maksudnya apa tuh? Udah gitu, kadang gambar sama tulisannya nggak nyambung. Handuk Angger misalnya. Bertulisakan Funny Love Story dan bergambar gadis Jepang/Korea dengan dua konde di atas kepalanya lagi Jejingkrakan. Gadisnya yang jejingkrakan, bukan kondenya. Mana love story-nya nih?  Yang lebih aneh lagi adalah salah satu baju Angger yang bertuliskan, Let’s make a cupcake. Inggredients: Flour Egg Butter Sugar Apa ada ya di Amrik sono baju bayi yang bertuliskan demikian? Itu kan seperti baju anak kita bertuliskan: Yo gawe gethuk. Bahane: Telo Gula Kambil. Inilah ‘inisiasi’ bahasa asing yang mendahului bahasa ibu. Pakaian dan asesoris Angger tidak ada yang bertuliskan kata-kata bahasa Indonesia. Benda-benda itu kalau pun memiliki tulisan pasti dalam bahasa Inggris, atau bahasa asing lainnya, seperti bahasa Spanyol (La Fiesta) atau bahasa Jepang nggak jelas (semacam piyo-piyo, peto-peto). Sekalinya niru bahasa Malaysia yang mirip bahasa Indonesia, eh salah. Tuh liat kausnya Ipin dan Upin di bantal peangnya Angger. Bukannya U dan I, tapi U dan U. Haduh, udah membajak, salah pula.  Hedew, Angger, Angger, pendidikan kayak apa yang kami berikan padamu. Hadiah Bergilir Pernahkan Anda ‘menggilir’ kado? Ngaku saja deh. Saya pernah. Berapa sprei yang Anda terima sebagai kado pernikahan Anda? Enam? Dua belas? Berapa setrika? Berapa lembar kain batik? Berapa lusin cangkir dan mangkuk? Bukankah sangat menggoda untuk menyingkirkan beberapa di antaranya? Eh, kok menyingkirkan sih? Memanfaatkannya untuk orang lain maksud saya. Biasanya sih alasannya adalah: 1. Terlalu banyak. Come on, siapa yang butuh empat setrika? 2. Sudah punya. Contohnya, saya mendapat hadiah buku dengan judul yang sama persis dengan yang saya miliki. Hobi membaca saya memang terkenal, jadi banyak yang memberi kado buku. Lain kalau kadonya duit. Biar sudah punya, tetap dong disimpan hahaha. 3. Tidak butuh. Anda mendapat asbak cantik, padahal Anda dan keluarga tidak merokok. 4. Malah menimbulkan masalah. Anda dapat kalung perak cantik, sementara kulit Anda alergi dengan segala macam logam. 5. Tidak suka motifnya. Sprei batik berbunga-bunga besar berwarna merah oranye? Mungkin sesuai dengan selera kita yang serba lembut. 6. Tidak bermutu. Handuk murahan yang bikin gatal misalnya. Jujur, saya kadang menggilir kado. Tentunya hanya kado yang baik. Hanya dengan alasan nomor satu dan dua. Oke, pernah juga dengan alasan nomor tiga. Eh, pernah juga dengan alasan nomor lima (saya dapat sprei bermotif ngejreng. Jadilah saya hadiahkan itu ke sepasang kerabat yang sedang merayakan pesta emas. Kayaknya sih, itu sesuai dengan selera mereka. Errr, semoga). Tapi NGGAK pernah dengan alasan nomor enam. Tetap dong, hadist nabi dipraktekkan, “Jangan memberikan sesuatu yang engkau sendiri memicingkan mata terhadapnya.” Bukan tanpa rasa bersalah atau cemas saya melakukannya. Bila mendapat kado cangkir berbentuk ajaib, saya berpikir sudah berapa lama hadiah ini berputar? Dari satu pernikahan ke pernikahan lain, sebelum saya gilir entah ke mana. Saya cemas, apakah dia tahu bahwa dia juga tahu bahwa dia mendapat hadiah bergilir? Bagaimana bila ia ternyata juga tidak membutuhkannya, sama seperti saya? Angger sebagai bayi baru mendapat banyak hadiah. Saya senang sekali, soalnya saya sempat sedih, berpikir Angger tidak akan mendapat banyak hadiah seperti Anggit, ponakan saya. Hahaha. Habis, orangtua Anggit masih muda dan punya banyak teman di Jogja, sementara teman-teman saya sedikit dan sudah terpencar ke mana-mana. Udah gitu saya jarang bersosialisasi. Tak dinyana, hadiah datang dari teman-teman goodreads Jogja, teman-teman sekantor Anto yang bejibun anggotanya, bahkan teman-teman dari Jakarta pun mengirim hadiah ke sini. Termasuk Gramedia, penerbit saya. Hiks, terharu banget. Mulailah gilir menggilir ini terjadi lagi. Niat saya: berbagi. Yang saya bagikan pertama adalah sebotol bedak besar. Angger belum butuh memakai bedak bayi, dan andaikata butuh pun, bedak yang ia terima nggak bakal habis dua tahun. So, saya menghadiahkan bedak itu pada tetangga saya yang baru saja melahirkan. Beberapa hari kemudian, tetangga tersebut menengok Angger dan membawa hadiah. Tebak apa hadiahnya? Bedak juga. Besar juga. Cuma beda merk doang. Inilah kado silang yang sesungguhnya. Next, ada tetangga lain yang juga melahirkan. Saya memastikan untuk memberikan hadiah yang berbeda dari yang ia berikan dulu pada saya. Saya pilih yang bagus. Pokoknya sempurna. Tapiiiii.... setelah saya bungkus, saya jadi ragu. Kayaknya kok bungkus kado yang saya pakai adalah bungkus kado yang dulu ia pakai untuk membungkus kado buat saya deh. Yup, karena saya pencinta lingkungan, bungkus kado pun saya kumpulin buat membungkus kado dan mengirim surat/paket bila perlu. Jadi gini deh. Saya masih ingat setiap kado, ini dari siapa, itu dari siapa. Tapi kalau bungkusnya? Ya, mana ingat! Tapi ya sudahlah, masak iya, ia ingat bungkus kado yang ia pakai dulu sih? Kalau pun ingat, ya biarlah. Mungkin saja kan dia menyangka saya membeli bungkus kado yang kebetulan sama persis? Menandakan selera kami yang sama-sama bagus? Astaga, kenapa sih saya ini? Hal lain yang bikin saya jengkel adalah, kadang setelah memberikan kado bergilir ini, saya cemas sendiri; eh, dalam kado yang saya kasih tadi udah nggak ada kartu ucapan dari pemberi yang lama, kan? Gimana kalau masih? Waduh, dia bakal tau dong, kalau saya ‘mendaur ulang’. Aduh, kenapa saya nggak periksa dulu sih? Aduh, gimana dong, masak saya kembali dan ambil kado itu lagi? Tapi kayaknya udah ‘bersih’ kok, label harganya juga udah nggak ada. Astaga, saya benar-benar sakit. Yang terakhir, Angger kembali dapat kado. Satu set botol bayi. Bagus sih, tapi sudah agak penyok kemasannya. Dan sebetulnya tidak saya perlukan. Gara-gara kebiasaan saya itu, saya jadi curiga, udah berapa kali hadiah ini berputar? Dan jelas dia akan berputar sekali lagi. Kepada siapa ya? Jangan-jangan orang itu juga nggak butuh botol. Oh, tolloooonggg. Seorang teman bercerita dia berhenti dari keanggotaan milis ‘ibu-anak’ karena milis itu terlalu ramai dengan informasi yang sering kali bertentangan. Well, tell me about it. Sejak hari pertama punya bayi, saya langsung mendapat ‘serangan’ konflik nasihat ini. “Susui bayinya setiap dua jam. Kalau dia tidur, bangunkan,” kata dokter kandungan. Jadi, saya pun menyetel alarm, siap bangun setiap dua jam sekali. Apa yang terjadi? Begitu sudah jamnya menyusu Angger tak mau bangun. Saya dan Anto menggelitik kakinya, menggoyangkan tubuhnya, menggendongnya, memanggil-manggil namanya. Tidak berhasil. Dia tetap tidur dengan damai. Panik, Anto pun pergi ke ruang perawat dan bertanya apa yang sebaiknya kami lakukan. Jawaban perawatnya: biarkan saja dia tidur. Kalau sedang tidur, jangan diganggu. APA? Kata dokter: Susui bayimu sesering dan selama mungkin. Kata bidan: Susui bayimu seperlunya. Jangan biarkan ia berlama-lama ngempeng, nanti jadi manja. Kata dokter: Duduklah dengan tegak waktu menyusui. Kata bidan: Duduklah dengan bersandar, biar nggak capek. Kata dokter: jangan khawatirkan hidungnya. Bila ia merasa sesak, dia akan bergerak dan mencari posisi nyamannya sendiri. Kata orang: itu-itu-itu hidungnya, ketutupan payudara, nanti-nanti-nanti sesak napas. Terus terang, susah rasanya menyusui pada hari-hari pertama: bersandar/tidak. Ganjal bantal/tidak. Kanan/kiri. Haduh. Nasihat gratis Banyak orang dengan senang hati memberi nasihat GRATIS bahkan bila tidak diminta. Sering kali nasihat ini diikuti dengan ‘ancaman konon’. “Dibedhong mbak biar tubuhhnya lurus. Ada lho anak yang tangannya bengkok karena KONON dulu tidak dibedhong.” “Jangan nyusui sambil tiduran karena ada lho bayi yang meninggal sesak napas pas nyusu karena tertindih payudara ibunya.” “Jangan dikasih pampers (popok sekali pakai), nanti burungnya keciiiilll lho mbaaaakkk.” Gimana saya nggak jiper? Bila saya menerima nasihat gratis seperti itu saya mengucapkan terima kasih (ya iyalah, dikasih kok nggak berterima kasih). “Maaf lho, Mbak, bukannya saya mau menggurui lho,” kata mereka. “Nggak papa kok, Bu, saya memang butuh berguru,” kata saya. Tapi soal mematuhi? Nanti dulu. Bertentangan Memang paling susah memang bila ada nasihat-nasihat yang saling bertentangan. Bayi sebaiknya dibedhong biar bla bla bla. Bayi sebaiknya TIDAK dibedhong karena bla bla bla. Bayi sebaiknya dikasih bantal peang agar bla bla bla. Bayi tidak perlu diberi bantal khusus karena bla bla bla. Jangan biasakan menggendong bayi karena bla bla bla. Gendonglah bayimu sesering mungkin biar bla bla bla. Bayi sebaiknya ditengkurapkan …tidak ditengkurapkan…dibedaki…tidak dibedaki. Bila menemui situasi seperti ini, saran GRATIS saya (biar pun Anda tidak meminta) adalah: lakukan apa yang menurut Anda baik dan sesuai untuk bayi Anda. Tiap bayi berbeda. Setuju? Ada artikel di internet yang cukup melegakan: bedhonglah bayi Anda bila ia kelihatan menikmati dibedhong dan jangan dibedhong bila si bayi tidak suka. Bagi saya fleksibilitas seperti itu berlaku untuk semuanya. Saya biarkan ia menyusu lama bila saya ingin mendekapnya lebih lama atau bila ia memang terlihat ingin dimanja. Saya gendong bila ia memang ia hanya tenang bila digendong. Saya percaya bayi akan mengikuti instingnya. Toh tidak mungkin dia menyusu selamanya, kan? Dalam mendidik anak, kata ahli psikologi, JANGAN mengguanakan kata negatif seperti ‘jangan’ atau ‘tidak’. Oh, tidaaaakkk, saya barusan menggunakannya! Oke, gampang kok menggantinya. Dalam mendidik anak, kata ahli psikologi, HINDARI kata negatif, seperti ‘jangan’ atau ‘tidak’. Aha! Penulis gitu loh. Kata ‘jangan’ tidak mempunyai simbol di otak, sehingga yang diproses oleh anak adalah kata bersimbol yang mengikuti kata ‘jangan’. Kalau Anda bilang, “Jangan main air!” Yang tertangkap oleh si anak adalah “main air” nya doang. Jadi deh dia makin semangat main air. Kalian pernah merasa gitu nggak? Saya kadang merasakan seperti itu. Kalau Ayah saya bilang, “Jangan makan sambil baca buku. Nanti bukunya kotor.” Saya justru pengin langsung menuangkan makanan saya ke buku, hanya sekadar buat menunjukkan tidak ada orang yang sakit atau rumah yang runtuh gara-gara sesendok kuah sop membasahi kertas. Pantes banyak korupsi di negara kita. Soalnya pas kecil kita banyak dilarang sih (jangan bohong, jangan curang, jangan mencuri). Jadi deh yang terekam cuma bohongnya, curangnya, dan mencurinya, hehehe. Anak juga akan jadi peragu, penakut, atau minder bila sering mendengar kata-kata negatif. “Jangan sentuh kompor, jangan gambari tembok, jangan jajan, jangan ini, jangan itu.” Lah yang boleh apa dong? Nanti si anak nggak berani ngapa-ngapain. Jadi, masih kata ahli, alih-alih mengatakan, “Jangan lari”, lebih baik kita mengatakan, “Larilah dengan hati-hati,” atau “Berjalanlah.” Katakanlah, “Mainlah di kebun,” dan bukan, “Jangan main di jalan”. Katakanlah, “Yuk bermain bola,” dan bukan “Jangan nongkrong di depan tivi.” Katakanlah, “Datanglah tepat waktu,” dan bukan “Jangan telat.” Baru-baru ini seorang kerabat mengungkapkan kecurigaan atas anaknya yang mulai sering telat pulang kuliah, “Aku menduga dia punya pacar. Tolong ya kamu selidiki kalau pas ngobrol sama dia,” katanya. Alih-alih memberi dukungan atau simpati, saya justru berkata, “Lah, wajar kan remaja pacaran. Justru normal kalau ia tertarik pada lawan jenis. Nah, kalau tidak tertarik, itu justru mengkhawatirkan.” Ayah juga mendukung saya, “Nanti bingung kalau anaknya sulit jodoh.” Saya lalu cerita soal ibu saya yang berkata, “Pacaranlah kalau kamu kuliah,” dan bukannya, “Jangan pacaran, kamu masih SMA!” Beneran. Ketika anak-anaknya sudah beranjak remaja, ibu membangun ruang tamu agar anak-anaknya bisa menerima teman-teman ‘akrab’ mereka di rumah. Ruang tamu itu cukup privat tapi masih bisa diawasi. Ibu juga punya pemikiran, kuliah adalah saat yang tepat untuk mencari jodoh. Waktu masih longgar, teman masih banyak dan terdiri dari berbagai macam latar belakang. Kalau Anda mahasiswa kedokteran, masih banyak kemungkinan buat nyari jodoh calon dokter, calon insinyur, atau calon akuntan. Coba, kalau udah jadi dokter beneran, kemungkinan ini bisa menyempit hanya pada: sesama dokter, perawat, pasien, paling pol staff keuangan rumah sakit (ini cuma teori ‘peluang’ lho). Saya punya pacar ketika kuliah dan saya memperkenalkannya pada keluarga. Ketika mereka mengetahui bahwa pacar saya lelaki yang baik, mereka menerimanya. Untuk itu, saya tidak merasa harus sembunyi-sembunyi. Kami lebih suka bertemu di rumah dan tanpa menunggu lama, kami melakukan kegiatan bersama dengan keluarga. Malah dia sampai ‘diperbudak’ oleh ibu saya, hahaha. Sampai kami menikah (yup, pacar saya sejak kuliah eh sejak akhir SMA itu jadi suami saya akhirnya). Balik lagi ke masalah tadi. Orangtua memang kadang serbakontradiktif. Anak nggak boleh pacaran, tapi giliran nggak juga menikah disalahkan. Anak cowok nggak boleh main bareng cewek, tapi waktu dia jadi gay, si ortu langsung naik darah. Anak dimasukin kuliah dengan cara nyuap, giliran dia ditangkap polisi karena korupsi, si ortu bertanya-tanya kok anaknya bisa jadi begitu. Mungkin benar kata ibu saya benar. Ia tidak mengatakan ‘jangan pacaran’. Ia mengatakan, pacaranlah waktu kamu cukup dewasa. Pacaranlah tanpa melanggar norma. Pacaranlah dengan akal sehat. Gampang, kan? Sebenarnya nggak juga. Begitu Angger lahir saya sudah punya kebiasaan untuk bilang, “Angger, jangan menangis. Angger jangan rewel. Angger nanti malam jangan begadang ,ya.” Wedew. Semua bayi itu lucu, selama kamu bisa mengembalikannya pada ibunya. Ungkapan itu mungkin hanya ungkapan lucu-lucuan, tapi sangat mungkin terinspirasi dari rasa frustrasi ibu baru. Perasaan ibu baru bercampur aduk; sakit setelah melahirkan, bingung cara menyusui, dan stress menghadapi bayi yang sepertinya menangis terus menerus, haus terus menerus, eek terus menerus, atau pipis terus menerus. Belum lagi rasa kesal karena direcoki semua orang, dengan nasihat-nasihat yang bertentangan pula. “Bedong tuh bayi biar kakinya lurus.” dan “Jangan dibedong, nanti kepanasan.” Uf, uf. Imut? Betapa bahagianya punya bayi! Bayi itu imut! Bayi itu ajaib. Lihat iklan sabun bayi itu. Si ibu mendekap bayinya penuh cinta. Si bayi memandang ibunya penuh kehangatan. Jari-jari mungil menggenggam telunjuk ibu dengan erat. Si bayi tersenyum mempesona. Si ibu mengusap bayinya terharu. Anda sering melihat gambar-gambar semacam itu? Dalam iklan? Dalam artikel? Dalam buku panduan melahirkan dan merawat bayi? Saya sangat sering melihatnya. Jadi gambaran itulah yang saya miliki waktu hamil. We would be so happy. Kami akan jadi pasangan ibu dan anak paling kompak, paling sehat, paling bahagia. Ini ditambah lagi dengan pengalaman saya mengasuh Kinthuth (nama sebenarnya Ken Anggit) keponakan saya. Dia sangat …aduuh kehabisan kata deh untuk mengungkapkannya; cantik, lucu, menggemaskan. Pokoknya saya jatuh cinta rata dengan tanah padanya. Dia berkunjung sebulan sekali atau dua kali dan biasanya menginap seminggu di rumah kami. Kalau dia datang, kami akan jumpalitan tapi senang sekali. Kalau dia kembali ke rumahnya, kami akan merindukannya. Ada hari-hari di mana saya duduk di depan komputer dan menghabiskan bermenit-menit hanya untuk memandangi fotonya. HP saya juga penuh dengan fotonya dan saya pandangi berkali-kali. Saya akan mengasuh Angger dengan perasaan serupa, pikir saya. Tapi belum-belum, angan itu sudah buyar berkeping-keping. Yang terlewat dari hubungan saya dan Anggit adalah: saya tidak perlu menyusuinya setiap dua jam sekali. Saya tidak harus bangun tengah malam saat ia rewel. Saya juga tidak perlu mengganti popoknya tiap kali dia pipis. Dan saya hanya perlu mengasuhnya seminggu tiap bulan. Saat mengasuh Kinthuth, bila dia mulai rewel saya akan mengembalikannya pada ibunya, “Fit, nih, Kinthuth haus,” dan saya bisa kembali membuka facebook dengan happy. Demikian pula bila saya sudah capek bermain dengannya, “Sana, main sama ibumu saja,” lalu saya bisa tidur siang dengan nyenyaknya. Yang ketinggalan dari iklan ‘oh-the-so-happy-mom-and-baby-adalah: ibu yang ngantuk kurang tidur karena tiap beberapa jam si bayi akan merengek, Ma aku haus; Ma, popokku basah; Ma, aku mimpi buruk; Ma, aku… aku hanya pengin rewel saja. Saya batuk di hari-hari pertama Angger lahir. Saya harus memakai masker dan tidak berani menciumnya. Tiap kali saya hendak bernyanyi untuknya, tenggorokan saya gatal dan yang keluar adalah batuk-batuk hebat alih-alih nada lembut. Yang tidak ditampilkan oleh gambar iklan sabun bayi adalah popok yang bahkan sudah basah sebelum sempat ditalikan, cucian yang menggunung, baju ibu yang nyaris tak pernah bersih atau kering dari ompol. Keadaan saya jauh lebih enak dibanding ibu-ibu lain. Saya punya Anto yang menanggung semua kebutuhan material kami, ada Wulan yang bertugas belanja, memasak, dan membantu menjaga Angger. Juga ada mbak Pri yang mencuci dan bersih-bersih rumah. Saya praktis cuma mengurus Angger. Itu pun saya merasa kelabakan. Mandi seperti dikejar-kejar, makan harus mencuri waktu. Bagaimana ibu-ibu lain melakukannya? tanya saya. Saya sempat merasa bersalah. Kenapa saya tidak mencintai Angger sebesar saya mencintai Anggit? Kenapa saya tidak bisa membaca buku untuknya? Bernyanyi sepuluh lagu untuknya? Saya lupa, cinta saya pada Anggit bagai cinta remaja yang tak mengenal susah, tak mengenal komitmen serius, pokoknya ha ha hi hi berpelukan tanpa perlu menghiraukan tagihan listrik dan telepon.. Namun cinta saya pada Angger ibarat cinta dewasa, cinta yang melibatkan frasa ‘for the better and worse, for the sickness and health, for the richer and poorer.’ Bagaimana saya bisa membacakan buku untuknya apabila ketika menggendongnya pun saya harus berjuang menjaga mata saya tetap terbuka. Bagaimana saya bisa bernyanyi apabila yang ingin saya lakukan adalah berteriak karena harus mengganti popok untuk ke lima kali dalam dua puluh menit. Saya harus bertahan agar saya sendiri tidak menangis frustrasi mendengar anak saya menangis tanpa saya tahu kenapa. Ayunan tak berhasil, lagu juga tidak, hypnoteraphy? Ah, teori. Sial, yang ini tidak ada dalam buku panduan mana pun. Tidak ada yang mengatakan bahwa ibu-ibu baru akan berjalan seperti zombie, bertengkuk kaku, dan pengin mencekik seseorang. Tidak ada yang memberitahu bahwa ibu baru bisa batuk dan flu. Saya bisa menyalahkan keadaan saya pada sindrom baby blues, tapi saya tahu, tidak ada yang boleh disalahkan. Ini semua alami. Saya hanya tinggal menjalaninya, mengingatkan diri untuk ikhlas dan pasrah, mengalir seperti air. Lalu saya akan mengingat-ingat bagaimana begitu lama saya menantinya. Bagaimana saya memiliki sejuta angan-angan untuknya. Kemudian, saya mencium perutnya yang beraroma minyak telon yang menghangatkan. Saya hirup udara dari mulutnya yang beraroma keju. Saya tatap matanya dan bertanya, kapan kamu bisa melihat wajah ibumu dengan jelas, Nak? Sungguh aku tak sabar menunggunya. Aku tak sabar menunggumu tertawa, mengucap kata pertamamu. Aku tak sabar mengajakmu ke taman bermain, mengantarmu sekolah, mengajarimu menulis –tidak sekadar menulis, Nak, tapi mengarang--. Bila membayangkan semua itu, saya tahu, semua susah payah itu akan berlalu, nyaris tak berbekas. Seperti rasa sakit melahirkan yang segera terlupa. Saya juga tahu semua itu sangat sepadan, bahkan terlalu murah dibanding kebahagiaan yang akan saya rasakan ketika menggandeng tangan mungilnya, mengajarinya naik sepeda, dan ketika dia mengantar saya ke mall nanti (emak-emak sophaholic nih). Ternyata benar, baru sebulan pun, saya sudah merasa lebih baik. Jadwal tidur Angger mulai teratur, menyusunya tidak begitu lama. Saya bisa menulis dan membuka internet. Perlahan saya mulai bisa menikmati peran baru saya, menciumi Angger dengan gemas, dan mengagumi matanya ketika dia menyusu. Saat itu saya tahu, saya bisa mencintainya dengan cinta yang begitu besar. Saya bisa mengasuhnya dengan keikhlasan tak bertepi. 
"Hai Kak Angger. Anggit sayang Kakak." (Foto yang membuat Anto menangis) Tulisan ini tidak membicarakan kisah Bu Siami yang melaporkan sontek berjamaah di SD Gadel 2 Surabaya. Meski saya gatel banget pengin ikut berkomentar. Ini membahas kebohongan ‘sehari-hari’ yang lebih sepele. Pernahkah Anda berbohong? Pada ortu, guru atau siapa pun? Pas pulang telat dari sekolah gara-gara pacaran, misalnya, dan untuk itu sejak awal Anda sudah merancang alasan, menjadi ‘penulis skenario’ untuk ibu Anda. Sialnya, karena pengaruh sinetron ala Punjabi bersaudara, jadilah skenario Anda diniatkan untuk 12 episode molor jadi 100 episode. Contohnya adalah kisah si Tutut di bawah ini. Tutut: Hai bu, maaf aku pulang telat (dengan wajah dicapek-capekkan) Ibu: Oh, kamu sudah pulang. Tutut: Iya nih, Bu, aku terpaksa pulang telat karena ngerjain tugas fisika (padahal ibunya nggak nanya). Ibu: ya, tidak apa-apa. Tutut: Tugas fisikanya harus dikumpulkan besok, padahal aku tidak punya bukunya, jadi aku harus ke rumah ...err... rumah... Riana. (Duh, si Tutut lupa lagi deh rumah siapa yang bakal dijadikan ‘kambing hitam’ dalam skenario yang sudah direncanakannya). Ibu: Oh, tapi udah selesai kan tugasnya? Tutut: Udah (lalu tiba-tiba ingat ibunya kenal dengan ibu Riana. Tutut pun cemas, jangan-jangan nanti ibunya meng-cross check dengan ibunya Riana). Tutut: Tapi ibunya Riana nggak di rumah tadi. Ibu: Ke mana? Tutut: nggak tahu, kondangan kali. Ibu: Kondangan sore-sore? Tutut: (emangnya nggak ada kondangan sore ya?) Eh, kayaknya sih gitu. Oh, kondangannya malem ding. Dia tadi pergi ke salon, dandan buat kondangan malemnya itu. Ibu: Aneh, ibunya Riana kan pintar dandan, malah bisa merias segala. Tutut: eh, eh, eh ..... Berbohong Begitulah. Saya dulu juga suka berpanjang-panjang kalau berbohong, biar meyakinkan. Tapi setelah beberapa kali berbohong, saya jadi tahu bahwa kebohongan lebih meyakinkan bila dilakukan dengan sederhana. Pertama, karena Anda tidak akan ‘terbelit’ dengan plot cerita Anda sendiri, kedua, karena ternyata kebanyakan orang nggak peduli. Anda: Maaf ya aku tidak bisa datang rapat. Teman Anda: Oke, nggak papa. Anda: Aku harus melayat (padahal mau kencan). Teman Anda: Oke. Anda: Kakekku meninggal mendadak tadi malam. Teman Anda: So what gitu, mau mendadak. mau direncanakan, terserah elo dah. Kisah Anto Anto bukan ahli berbohong dan ketika ia harus berbohong ‘putih’ pun, dia punya kecenderungan melebih-lebihkan seperti si Tutut di atas. Mungkin supaya bohongnya meyakinkan, tapi akibatnya kayak gini nih. Ada seorang kerabat yang prihatin melihat kami tidak juga dikaruni anak setelah sekian tahun menikah. Maka pada suatu hari dia berinisiatif menolong kami dengan memberi ramuan buatan sendiri yang katanya cespleng banget. Saya sebenarnya ragu untuk meminumnya, selain kerabat ini tidak berlatar belakang farmasi atau ilmu sejenis itu, saya juga dilarang minum jamu oleh dokter selama terapi kesuburan. Tapi karena kami tidak ingin mengecewakannya, kami tetap menerima ramuan itu. Dua botol. Satu untuk saya, satu untuk Anto. Begitu saya buka, saya mencium bau anggur (seperti anggur cap orang tua) dari ramuan itu. Nah, itu kan mengandung alkohol dan saya jelas tidak mau meminumnya. Maka, berakhirlah nasib ramuan itu di bak cuci. Beberapa saat kemudian, saya dinyatakan hamil. Wuah, dengan gembira saya datang dan mengabarkan berita itu kepada kerabat tadi. Anto, dengan niat menyenangkan dan membuat si kerabat bangga, memulai kebohongannya, “Pakde, ramuannya benar-benar manjur. Baru minum sebotol saja langsung hamil.” Sungguh, saya tidak mengerti mengapa dia harus berbuat demikian. Wong nggak usah ngomong gitu juga nggak pa-pa, ‘jujur’ pun nggak papa, seperti, ‘kami belum sempat minum ramuan itu’, meski nggak perlu mengatakan ‘ramuan itu saya gelontor di bak cuci.’ Tapi begitulah Anto, saking baiknya, dia selalu ingin membuat orang lain bahagia. “Nah, benar, kan,” kata si kerabat mantap, “Jamu itu memang berkhasiat. Aku pernah memberikannya pada bla bla bla dan nyatanya dia sehat bla bla bla terus minta lagi bla bla bla. Jamu itu boleh terus kalian minum kok buat menambah stamina. Aku akan kasih lagi.” WHAT? “Dokter kandungan melarang saya minum jamu pakde,” kata saya cepat. Lega menemukan jurus menghindar. “Hm, kamu tidak boleh. Tapi Anto masih boleh, jadi saya kasih satu botol saja.” Lalu dia pun membuka kulkas, mengambil satu botol penuh ramuan berwarna pekat itu, dan memberikannya pada kami. Ups. Oh. Oke, deh, saya tahu apa yang akan saya lakukan setelah itu: menggelontor sebotol ramuan beraroma anggur sekali lagi. Sederhana Jadi begitulah. Jujur itu baik dan bohong itu dosa. Tapi kalau Anda ‘terpaksa’ berbuat dosa, berbuatlah dengan sederhana. Coba kalau guru SD Gadel 2 itu bilang, “Kalian boleh kerja sama waktu UN” (kayak guru SD saya dulu), dan nggak perlu menggelar simulasi dua kali segala, pasti nggak bakal heboh kayak gini kasusnya. Loh, kok jadinya ngomongin itu lagi, sih? That Blow! Oktober 2009. Saya menangis di apotek klinik itu. Nyaris dua tahun berlalu, tapi rasanya baru kemarin itu terjadi. Aneh! Dari berkali-kali kunjungan ke klinik tersebut, kunjungan pertama itu –yang membuat saya menangis—yang begitu jelas terekam dalam ingatan saya. “Bagaimana kamu bisa hamil, bila haidmu tidak teratur seperti ini?” Dokter itu mengatakannya dengan nada biasa saja, tapi di telinga saya terdengar seperti petir menyambar. Saya hanya gemetar di depannya. Namun kami keluar, ngantri menebus obat, air mata saya menetes. Malam itu, saya memang mengajak Anto ke klinik Obgyn. Kami ingin punya anak. Saya membaca, ketika merencanakan punya anak, sebaiknya kita melakukan persiapan kesehatan. Periksa ke dokter, periksa laboratorium, dan mulai mengonsumsi zat-zat penting, seperti asam folat. Jadi saya memutuskan untuk berkonsultasi. Hanya konsultasi. Mungkin dokter akan meresepkan beberapa vitamin dan merujuk ke lab. Lalu saya akan hamil bulan depan. Just simple as that. Saya membawa buku catatan siklus saya selama dua tahun terakhir. Logika saja. Inilah ‘keuntungan’ orang yang mencatat apa pun. Saya selalu mencatat jadwal haid sejak kecil –dan saya anjurkan hal ini untuk semua wanita—Sayangnya itulah yang menjadi ‘final blow’. Saya tahu ketidakteraturan adalah masalah, tapi saya pikir bukan masalah besar. Banyak yang punya siklus serupa. Perkara lima tahun menikah kami belum punya anak? Well, kami memang sempat menundanya. Lalu kami tinggal terpisah, saya kerja di Jakarta, Anto di Jogja. Jadi tidak heran kan kalau kami belum punya anak? Meski saya nggak yakin juga sih. Tapi malam itu untuk pertama kali keraguan saya mendapat penegasan! Saya tidak sempurna. Saya cacat. Mungkin kami tidak akan pernah punya anak. Anto tidak menunjukkan kekhawatiran yang sama. Saya lupa apa yang ia ucapkan, tapi intinya, ia akan tetap bersama saya, Alloh tahu yang terbaik, dan hal-hal semacam itu. Hal-hal yang menghibur, tapi saya tidak terhibur. Doa dan Upaya Lalu dimulailah serangkaian pengobatan yang mengombang-ambingkan mental. Saya diharuskan minum pil penyeimbang hormon sih. Tiga bulan awalnya. Tanpa hasil. Tiga bulan lagi. Masih tanpa hasil. Dan sepanjang itu, jangan ditanya, upaya lain yang kami lakukan. Dari yang masuk akal sampai nggak logis. Semua masukan kami dengarkan dan beberapa kami lakukan. Semua dibumbui kalimat, “Saya melakukan itu dan nyatanya berhasil.” Atau “Anak saya melakukan itu dan tiga bulan kemudian, dia hamil.” Atau “Coba deh, banyak yang cocok, kok.” Kami makan toge. Setiap hari ada toge di kulkas. Kami membubuhkannya pada apa pun yang kami makan. Bahkan waktu kami bepergian dan harus makan di luar, kami bawa toge itu dan kami bubuhkan saat makan di warung soto. Minum jamu juga kami lakukan. (Tapi ini tidak boleh dilakukan ketika kita minum obat) Meditasi? Iya. Minum air rendaman kacang hijau? Juga. Berdoa? Jelas. Saya yang belum pernah i’tikaf pada bulan Ramadhan dalam hidup saya, tahun itu i’tikah berkali-kali. Memohon padanya. Yang nggak logis pun sempat saya jalani: Waktu kakak ipar saya mitoni, ia mengadakan upacara siraman. Si ibu hamil disirami oleh sanak saudara menggunakan air bunga. Nah, gayung buat siraman itu dibuat dari buah kelapa yang diiris bagian atasnya. Setelah siraman selesai, gayung dilempar jauh-jauh. Tiba-tiba ada seseorang yang berkata, “Ken, ambil tuh gayung, biar ketularan (hamil).” Tanpa berpikir, saya lari saya mengambilnya. Ada orang lain yang juga hendak mengambilnya, tapi duluan saya dunk! Buah kelapa yang ada di dalam gayung itu harus dimasak dan saya makan. Saya turuti. Bukannya saya percaya pada hal itu, tapi apa salahnya sih menyenangkan orang lain dan dapat kelapa gratis? Ada juga yang bilang, “Biarkan dirimu dikencingi bayi biar hamil.” Oke, deh, saya sudah dikencingi berliter-liter oleh ponakan saya si Anggit Kinthuth. Nggak cuma pipis malah, eek juga. Tentunya ini tidak logis, tapi bagi saya ini adalah latihan kerelaan, kerelaan untuk menerima semua konsekuensi merawat bayi. Saran lainnya yang belum sempat saya turuti adalah: makan daging burung dara, makan sari bunga kurma, dan mendatangi dukun bayi. Untung juga saya belum menjalani apa yang dijalani pakde saya ketika ia belum juga dikarunia anak selama 15 tahun menikah: berendam semalaman di sungai! Akhirnya dia punya anak, lho. Dua. Positif! Setelah lebaran 2010, saya merasa badan saya tidak sehat. Terutama pencernaan. Uf, pasti karena saya salah makan. Biasalah, lebaran jadi alasan buat makan ngawur. Diet juga terlupakan. Akibatnya jelas: perut saya melar. Celana saya kesempitan. Tapi kenapa lapar terus. Pernah tengah malam, saya bangun dan perut saya benar-benar keroncongan. Karena yang ada di kulkas cuma nata de coco dan bakpia, itulah yang sama makan. Paginya saya merasa bersalah karena makan gula terlalu banyak. Pernah juga saya kliyengan, gemetar ketika turun dari motor karena kelaparan! Padahal saya sudah makan sebelumnya. Saya hamil? Tidak ada kecurigaan itu, wong jelas hasil test pack saya negatif. Saya juga sudah periksa ke dokter, di-USG dan negatif. Saya bahkan minum pil hormon lagi. Tapi herannya, sudah habis satu periode, saya tidak mendapat haid. Padahal pil hormon itu membuat keajaiban: haid saya jadi teratur seperti kereta api Jerman. “Kamu hamil kali, Mbak,” Fitri si adik ipar berkata. “Kamu ini sangat optimis ya,” balas saya. Habis semua tes negatif kok. Oktober 2009 Anto tugas luar ke Kalimantan. Kami berencana periksa ke dokter sepulangnya ia dari sana. Dan seperti biasa, saya melakukan tes pribadi sebelum periksa. Dengan badan yang masih terasa tidak sehat, saya naik sepeda, pergi ke sana sini dan mampir ke apotek. Pulangnya saya melakukan tes. Tanpa perasaan apa pun. Sekian kali saya melakukan uji kehamilan pribadi dan sekian kali melihat satu strip membuat saya mati rasa, tak ingin kecewa. Ha! Saya gemetar. Kali ini saya melihat dua strip tercetak! Tak percaya! Air mata saya langsung menggumpal. Saya sembahyang, berdoa dan bersyukur. Tapi saya masih belum yakin. Apalagi garis yang satunya agak samar. Sore itu, saya naik sepeda lagi. Ke apotek lagi, membeli tes pack lagi. Dua kali ini. Yang mahal dan yang murah. Agak sorean, saya test lagi, hasilnya sama: dua garis, satu agak samar. Malamnya, kami saling menelepon. Saya mengobrolkan soal remeh temeh biasa sampai akhirnya saya menyampaikan kabar itu. “Kita akan punya anak,” kata saya. Berat rasanya menyampaikan kabar itu lewat telepon. Kami selalu bersama, tapi giliran ada kabar segembira ini, saya menyampaikannya lewat telepon. Tapi saya ingin ia mulai berhati-hati. Apalagi, saya baru tahu kemudian, Anto bernadar puasa Senin Kamis sepanjang kehamilan saya, bila kami memang benar-benar dikarunia anak. “Ha, yang benar?” Anto tak percaya. “Aku akan tes sekali lagi, besok subuh.” Subuh berikutnya, sebelum saya telepon, Anto telepon lagi. Saya bilang hasilnya masih sama. Kami masih menyimpan berita ini hingga kami sempat ke dokter. Menemukan Angger Sabtu 9 Oktober, Anto pulang dan malamnya kami langsung ke dokter. Tak terkira rasa syukur dan gembira kami ketika dokter mengonfirmasi, “Hamil,” katanya tanpa ragu-ragu, “Delapan minggu.” Woooowwwwww. Itu menjadi hadiah ulang tahun saya yang paliiiiing manis. Saya berkaca-kaca ketika menyampaikan kabar itu kepada keluarga. Tanggal 13 Mei 2011, Angger lahir. Cerita tentang itu? Lain kali. Blog ini akan dipenuhi cerita seputar kehamilan, kelahiran, dan Angger. Yang bosan? Ya maaf. Eh, ngapain harus minta maaf? Blog-blog gue sendiri gitu loh, hehehe.  Selamat datang Angger anakku, Lelakiku, mata hatiku.  Subuh 13 mei, Aku tidak tahu cuaca pagi itu. Kita terbaring di ruang tertutup, berlampu terang, dan berdingin ac. Kamu ingat kan? Tapi aku tak peduli cuaca, anakku. Bagiku, dunia sangat cerah, sejuk, dan indah Saat kudengar tangismu Saat dadamu menyentuh dadaku. Kamu begitu mungil, rapuh, dan ... ajaib, selembut mimpi Matamu terbuka bertanya, kepala terangkat, kaki dan tangan menggapai-gapai udara. Seolah kamu ingin segera mengenaliku, seolah kamu ingin membalas pelukanku. Saat itu aku tahu kamu begitu sempurna. Saat itu aku tahu aku jatuh cinta lagi. Untuk ke sejuta kali. Di antara bahagia yang meluap membuncah tak terkata Kadang ada cemas terselip, Aku dan pria di sampingku --omong-omong dia ayahmu yang sungguh berani mendampingi kita setiap waktu— harus mengakui bahwa kami tidak sesempurna dirimu Kami selalu mengusahakan yang terbaik, kamu tahu. Kalau kadang kami gagal, maafkan. Kita sama-sama belajar bukan? Dan kita melakukannya dengan sepenuh cinta. Sungguh. Kami sangat mencintaimu. Aku bahkan menangis saat mengucapkannya Berharap kamu percaya sepenuhnya. Begitulah, hanya itu yang bisa kami janjikan: Melakukan yang terbaik dan memberimu berlimpah cinta. Sangat berlimpah dan cukup untuk kita semua. Becoming My Mother Dalam sebuah forum diskusi gender yang membahas poligami salah satu peserta bercerita tentang laki-laki yang menjadi korban poligami ayahnya. Waktu dia masih kanak-kanak, laki-laki ini merasakan betapa susah hidupnya karena ayahnya memiliki lebih dari satu istri. Apalagi istri-istri ayahnya tidak akur. Bertengkar melulu. Bertahun-tahun kemudian, si anak ini menikah dan coba tebak apa yang ia lakukan setelahnya! Berpoligami juga! “Bapak dulu bodoh, sih,” katanya, “istri-istrinya tinggal berdekatan. Harusnya kan, kalau poligami tuh istri pertama tinggal di Yogya, istri kedua tinggal di Magelang, jadi jauh gituuuuu.” Oh. Cerita seperti itu tidak asing bukan? Anak yang waktu kecil biasa dikasari orang tua merasa menderita hingga bersumpah nggak akan bersikap keras bila punya anak kelak. Tapi apa jadinya? Waktu punya anak, gantian deh anaknya dikerasin. Statistik menyatakan bahwa anak korban perceraian mempunyai kemungkinan bercerai lebih besar daripada mereka yang orangtuanya tidak bercerai. Padahal, anak-anak korban perceraian ini pasti juga sangat sedih kan dulunya? Kok bisa mereka cenderung mengulang kesedihan yang sama pada anaknya? Banyak teori mengenai apa alasan dibalik ‘pengulangan’ seperti ini, misalnya: “Aku dulu dikasari oleh ayah, dan akhirnya aku jadi manusia tangguh seperti ini. Anakku juga harus jadi manusia tangguh, jadi harus aku kasari.” “Ayah dan ibuku dulu bercerai, tapi nyatanya aku tetap bertahan. Malah menjadikan aku kuat. Anakku juga akan bertahan dan jadi orang kuat bila aku bercerai.” “Dulu ayahku menyelesaikan masalah dengan membentak ibu. Jadi kalau aku bermasalah dengan istriku, bentak saja dia, pasti masalahku juga selesai.” “Ayahku dulu poligami dan aku tertekan karena malu. Aku juga resah karena istri-istrinya sering bertengkar. Kalau aku berpoligami tanpa diketahui anakku dan istri-istriku tidak tinggal berdekatan, anakku nggak akan malu atau tertekan.” Begitulah. Karena itulah yang kita hadapi, secara tidak sadar itulah yang kita tiru. Kalau pun kita sadar itu keliru, kita siap dengan segala alasan pembenar. Bagaimana dengan saya? Almarhum ibu saya bukan malaikat. Dia manusia yang tidak sempurna. Kelemahannya masih sangat wajar dan manusiawi, misalnya kadang ngotot kalau udah punya pendapat. Kalau memerintah nggak berhenti-henti. Kalau marah sama orang lama redanya. Tapi semua masih bisa ditolerir. Lagi pula kebaikannya masih jauh-jauh lebih banyak. Tapi, karena saya kadang nggak nyaman dengan beberapa sikapnya, saya diam-diam bertekad saya nggak akan meniru sikap-sikap itu ketika saya dewasa. Tapi, belum-belum –sebelum saya dewasa benar—adik saya sudah komplain, “Kamu kok nyuruh-nyuruhnya seperti ibu, sih?” He? Ibu saya paling nggak bisa melihat anak-anaknya nganggur. Kalau kami ngobrol di meja makan, tiba-tiba saja di depan kami sudah ada bawang yang harus dikupas. Sebelum bawang selesai dikupas, ibu sudah berkata, “Kacang panjangnya dipotong-potong.” Pokoknya sial deh kalau berada di ‘zona’ dekat mami bila dia sedang bekerja. Dapat dipastikan pekerjaan bakal mengalir. “Habis kalau nggak aku kasih perintah sebelum kalian selesai, pasti kalian kabur,” katanya. Kok tahu? Kami semua pintar menghindar. Kalau beliau sedang memasak, kami memilih ngendon di kamar, di ruang depan, di ruang komputer, atau manalah, pokoknya jauh dari zona dapur. Sekali lewat dekat ‘zona kerja’ , bahkan meski cuma lewat buat ke kamar mandi, bisa-bisa kami ditahannya. Sekarang ternyata oh ternyata, saya merintah-merintah saudara saya persis dengan cara beliau. Bila ayah ‘nganggur’ di meja makan, tiba-tiba saja saya ngambil telur rebus dari kulkas dan meminta beliau mengupasnya. Kepada adik-adik, saya membagi pekerjaan dalam satu rangkaian, “Oke, siapkan bawang putih, bawang merah, cabe, lalu iris-iris. Setelah itu kupas kentang lalu potong-potong. Nah, kamu, tugasmu membuang sampah.” Kalau ada yang ‘izin’ nggak bisa bantu, saya bilang, “Oke, tapi ntar kamu cuci piring.” Saya dulu sering mengkritik mami yang ke pasar tanpa tahu apa yang akan dibelinya. Kok nggak direncanakan dulu sih mau masak apa? “Gampang, nanti sedapatnya aja. Sayur apa yang ada di pasar itu yang dibeli dan dimasak,” kata mami. Saya heran sekali karena belanja dengan cara seperti itu tidak efektif. Tapi kini? Saya juga kayak gitu. Dengan alasan sama persis seperti mami, yaitu: 1. Bingung mau masak apa, 2. Meski sudah ditentukan kadang sayur dalam daftar belanjaan nggak tersedia di pasar. Karena kurang perencanaan, kadang mami bolak-balik ke pasar (untung pasarnya dekat). Pagi buat beli bahan sarapan. Setelah sarapan, ke pasar lagi buat beli bahan makan siang. Ntar pulang kerja mampir pasar lagi. Belum terhitung kalau ada bahan yang kelupaan dibeli. Tentu saja saya juga seperti itu sekarang. Ke pasar sehari dua kali? Biasa! Mami juga sering ngutang. Bukan karena nggak punya duit, tapi nggak bawa uang yang cukup. Bisa karena memang kurang perhitungan, bisa karena mendadak dia melihat barang bagus yang tadinya nggak niat dibeli. Saya sering malu karenanya. Ya kalau nggak bawa duit, nggak usah beli, sebagus apa pun barang itu. Kalau tetap mau beli ya pulang dulu buat ambil duit. Agar nggak malu, saya selalu membawa uang lebih. Dulu. Sekarang? “Mbak, ini brokolinya bagus-bagus,” kata penjual sayur. “I …iya sih, tapi uang saya sudah habis.” “Bawa aja, Mbak, bayar besok.” “Oh, boleh deh, Bu. Besok ingetin saya.” Ketika lewat penjual telur, barulah ingat persediaan telur di rumah habis. So, dengan luwesnya saya berkata, “Bu, beli telur setengah kilo. Uangnya besok ya.” “Ya, ya, santai aja, Mbak.” Huahahaha, saya jadi tahu mengapa ibu saya dulu luwes banget dalam soal itu. Utang bukan hal yang memalukan amat. Toh saya selalu berusaha membayar keesokan harinya (dan saya ke pasar nyaris tiap hari). Para pedagang juga mengenal saya, tahu rumah saya, percaya pada saya. Jadi, kenapa tidak? Ya, saya tahu saya meniru sikap ibu saya yang dulu tidak saya sukai. Tapi setelah saya pikir, ibu saya melakukannya untuk alasan yang masuk akal, kok. Lagian ngutang kan nggak buruk-buruk amat. Membagi tugas pada semua anggota keluarga malah sangat baik. Mulai deh, cari alasan. Eh, atau mungkin memang udah turunan. It’s in the blood. Mau gimana lagi. Tambeng alias muka tembok alias rai gedhek ternyata merupakan sifat wajib bila Anda pengin jadi pemimpin pemimpin atau pejabat atau orang besar. Saya baru tahu loh gara-gara nonton parade tambeng dalam beberapa bulan ini. Peserta parade tambeng pertama adalah Husni Mubarak, presiden Mesir yang bercokol di takhtanya selama 30 tahun. Dia baru mau turun setelah dioprak-oprak rakyatnya selama 18 hari. Bayangkan saja berapa banyak kerugian moril dan materiil gara-gara semua demo dan huru-hura itu. Untuk itu saya bersyukur, Pak Harto dulu cukup didemo pada hari-hari akhir jabatannya selama 8 hari saja, lalu mengundurkan diri. Peserta parade tambeng kedua lebih jago lagi. Dia adalah Muammar Khadafi, Presiden Libia, yang udah lebih dari dua bulan didemo tetap kekeuh nggak mau turun. Dia bahkan bersedia berjuang dan mati ‘syahid’ demi memerangi para musuhnya. Nggak tanggung-tanggung, perjuangannya termasuk membantai para tentaranya yang membangkang dan penduduk negaranya sendiri. Konon, diperkirakan lebih dari 6000 jiwa melayang. Padahal penduduk Libya itu cuma sekitar 6,5 juta. Bayangin kalau rakyatnya habis, dia mau mimpin siapa coba? Peserta berikutnya berasal dari Indonesia. Satu rombongan. Mereka adalah pengurus PSSI yang ngengkel banget memeluk kursi jabatan mereka. Biar sudah didemo orang satu stadion plus kelompok-kelompok dari Sumatra sampai Papua, kuping mereka kayak tersumbat. Malah kepedean dan menyatakan itu hanya konspirasi dari beberapa gelintir oknum saja. Kritik-kritik dari para pengamat yang netral pun tidak didengerin. Pokoknya, anjing menggonggong, kafilah ber-tambeng. Kabar baiknya Nugroho Besoes, sang Sekjen, sudah mengundurkan diri. Wew, akhirnya, setelah nyaris 30 tahun menjabat. Itu kursi pasti udah ‘legok’ membentuk kontur bokongnya saking lamanya didudukin. Untung deh, para pengurus ini sudah digusur paksa. Saya pikir parade tambeng udah berakhir, eh tiba-tiba ada peserta yang tergopoh-gopoh nyusul. Alangkah kagetnya ketiga peserta yang nyusul lagi-lagi dari Indonesia. Juga satu rombongan. Mereka adalah pemimpin/ anggota DPR yang ngotot pengin membangun gedung baru yang harganya 1,8 T. Dikritik di TV, tambeng. Dikritik di koran, tetap tambeng. Didemo, hidup tambeng. Disomasi, yang penting tambeng. Para penentangnya serasa ngomong sama tembok. Saya lalu mencatat bahwa salah satu syarat untuk jadi orang besar adalah wajib tambeng. Belum-belum saya putus asa. Soalnya saya sama sekali nggak berbakat tambeng. Dikritik dikit, saya langsung memble. Disalahin dikit, saya nangis-nangis. Ada yang bilang novel saya jelek, semangat mendadak kempis. Ditunjuk jadi ketua, keder, nolak-nolak. Ibu saya lebih keras daripada saya, tapi juga gampang mewek. Mau berbeda sedikit saja dari orang lain, dia sudah melempem dan mendesah, “Nanti apa kata orang kalau kita nggak menyelenggarakan pesta pernikahan?” Apa kata orang jadi pertimbangannya. Kalau ibu masih hidup saya mungkin bilang, “Mi, contoh aja itu pengurus PSSI. Biar dikatain blah blah blah bleh bleh bleh, mereka melenggang saja, tuh.” Banyak contoh-contoh di sekitar saya yang terpaksa kehilangan kedudukan mereka, hanya karena satu hal: kurang tambeng. Pengurus karang taruna dipecat karena korupsi beberapa puluh ribu rupiah saja. Langsung turun tuh. Nggak cuma turun, tapi juga melarikan diri nggak tau ke mana. Padahal ada menteri yang korupsi miliaran dan tetap jadi menteri. Pengurus RW turun juga dengan sukarela ketika tau ada beberapa warga yang menentangnya (padahal masih banyak warga lainnya yang mendukung). Pengurus masjid juga gitu. Ada pertentangan dikit aja, langsung pada mengundurkan diri. Coba para pejabat tambeng di atas mencontoh kami. Eh, kebalik. Coba kami mencontoh pejabat-pejabat tambeng itu, mungkin kami nggak juga jadi pengurus RW atau pengurus masjid, tapi jadi Pemimpin DPR atau ketua persatuan olahraga, atau presiden selama 32 tahun! Belajar apa pun itu ada gunanya. Belajar bahasa Indonesia, terutama tentang ejaan sangat berguna, bahkan ketika Anda nantinya ‘cuma’ berjualan siomay. Tujuannya agar gerobak siomay Anda tidak bertuliskan seperti ini:  Soalnya bila siomay Anda ‘sepsial’ mungkin rasanya tidak ‘lezat’ tapi ‘lzeat’. Keterangan: Foto saya ambil di dekat Taman Pintar, Yogyakarta. Belajar bahasa Inggris juga sangat berguna, bahkan ketika Anda ‘hanya’ bercita-cita jadi pembuat mainan. Biar nggak kejadian kayak gini, nih:  Forget-Me-Not adalah nama bunga. Arti harfiahnya, “Jangan lupakan aku.” Kalau Froget Me Not, saya tidak tahu itu nama apa, yang jelas artinya Jangan luPRakan aku. Keterangan: Foto saya ambil di dalam taksi di Yogyakarta.
| |